Nosel.id Jakarta- Tri Anggita Utami yang akrab disapa Gigita, tumbuh dari sebuah sudut kota Medan, bukan pusat hiruk-pikuknya, melainkan bagian hilir yang lebih tenang dan bersahaja.
Lingkungan tempat ia dibesarkan masih terasa seperti “kampung” dalam makna terbaiknya: warga saling mengenal, ramah, dan hidup dalam kebersamaan.
Udara yang relatif sejuk dan suasana yang damai menjadi latar masa kecilnya, membentuk pribadi yang hangat dan membumi.
Gigita berasal dari keluarga sederhana, namun kaya akan nilai.
Sejak kecil, ia menyaksikan arti kerja keras, kejujuran, dan saling mendukung antaranggota keluarga.
Tidak banyak kemewahan, tetapi cinta dan kebersamaan selalu hadir.
Nilai-nilai inilah yang kemudian ia bawa hingga dewasa menjadi fondasi dalam kehidupan pribadi maupun perjalanan kariernya.

Menariknya, langkah Gigita di dunia profesional tidak dimulai dari jalur yang ia jalani saat kuliah.
Ia merupakan lulusan Sarjana Ekonomi, sebuah latar belakang yang sekilas tampak jauh dari dunia modeling dan muse.
Awalnya, Gigita tidak pernah benar-benar merencanakan terjun serius ke dunia tersebut.
Semua bermula dari rasa tertarik, lalu mencoba kesempatan-kesempatan kecil yang datang.
Dari proses itu, ia mulai menyadari bahwa passion tidak selalu berjalan lurus dengan jurusan pendidikan.
Bagi Gigita, ilmu ekonomi justru menjadi bekal penting.
Ia belajar melihat karier sebagai investasi jangka panjang, memahami profesionalitas, manajemen diri, dan cara bertumbuh secara berkelanjutan.
Dunia kreatif yang ia jalani kini tidak bertentangan dengan latar pendidikannya justru saling melengkapi dan menguatkan.
Menjadikan hobi sebagai bagian dari pekerjaan tentu membawa banyak rasa syukur.
Gigita menikmati proses mengekspresikan diri, bertemu orang-orang baru, dan terus belajar dari berbagai pengalaman.
Namun di balik itu, ada sisi lain yang tidak selalu terlihat. Dunia ini menuntut konsistensi, mental yang kuat, dan kesiapan menerima kritik.
Ada lelah, ada ragu, dan ada proses panjang yang terkadang sunyi. Justru dari situlah kedewasaan dan ketangguhan ditempa.
Dalam hidupnya, Gigita tidak memasang harapan yang berlebihan, tetapi ia memanjatkan doa yang menyeluruh.
Ia berharap keluarganya selalu sehat dan diliputi cinta, kariernya bertumbuh dengan cara yang baik dan bermakna, ekonomi yang cukup dan berkah, serta kesehatan fisik dan mental yang terjaga.
Lebih dari itu, ia ingin keberadaannya memberi dampak positif, sekecil apapun bagi lingkungan sekitar.
Karena baginya, hidup bukan hanya tentang pencapaian pribadi, melainkan juga tentang manfaat.

Untuk siapa pun yang membaca kisahnya, Gigita meninggalkan pesan sederhana namun kuat:
“Tidak apa-apa berjalan pelan, asalkan tetap melangkah.
Tidak semua mimpi harus sama dengan orang lain.
Yang penting, kamu jujur pada diri sendiri dan berani bertumbuh.”
Gigita percaya, setiap orang memiliki waktunya masing-masing.
Tidak perlu tergesa, tidak perlu membandingkan diri. Selama terus melangkah dan percaya pada proses, pertumbuhan akan menemukan jalannya sendiri.
Source image: Gigita








