Fitria Febryanti: Tumbuh dari Luka, Mengabdi dengan Cinta

Nosel.id Jakarta- Fitria Febryanti berasal dari Majalengka, Jawa Barat, yang dikenal dengan sebutan Kota Angin.

Sejak kecil, ia tumbuh di lingkungan desa yang hangat dengan masyarakat yang ramah. Profesi sebagai bidan membuat Fitria cukup dikenal oleh warga sekitar.

Ia dikenal sebagai sosok yang rajin dan selalu berusaha memberikan pelayanan tanpa membeda-bedakan pasien.

Masa kecil Fitria tidak selalu mudah. Ia tumbuh tanpa kehadiran seorang ayah akibat persoalan dalam keluarga. Namun, di tengah pengalaman tersebut, ia mendapatkan kehangatan dari keluarga besar pihak ibunya yang penuh cinta.

Lingkungan rumah yang berdekatan dengan keluarga dari pihak mama juga membuatnya merasa memiliki tempat yang nyaman untuk tumbuh.

Sejak kecil, Fitria memiliki tekad sederhana: ingin membahagiakan sang mama dan tidak ingin lagi melihat ibunya bersedih. Berbagai pengalaman dan kepedihan justru membentuknya menjadi pribadi yang terbiasa mencari arah sendiri, terus belajar, dan berusaha membuktikan bahwa ia mampu berdiri dengan kekuatannya sendiri.

Sejak awal, cita-cita Fitria sebenarnya adalah menjadi dokter. Namun, jalan membawanya untuk menempuh pendidikan di program profesi bidan.

Setelah menyelesaikan kuliah, ia belum langsung mendapatkan pekerjaan tetap di sebuah instansi. Alih-alih menyerah, Fitria memilih mencari peluang lain dengan mengikuti berbagai pelatihan, seperti Baby Spa, Aesthetic Skincare, dan APN.

Dari berbagai ilmu tersebut, Fitria kemudian memberanikan diri membangun usaha sendiri. Sejak tahun 2020, perlahan usahanya mulai berkembang dan dikenal masyarakat.

Kepuasan pasien serta manfaat yang mereka rasakan dari pelayanan yang diberikan menjadi salah satu sumber kebahagiaan dan motivasi baginya untuk terus berkembang.

Menjalani profesi sekaligus membangun usaha di bidang kesehatan membuat Fitria mendapatkan banyak pengalaman.

Ia dapat mengasah hard skill dan soft skill yang kemudian bisa memberikan manfaat bagi banyak orang. Ia juga mendapatkan kesempatan bertemu dengan berbagai karakter, memperluas relasi, dan belajar dari cerita serta pengalaman setiap individu.

Keputusan untuk terjun ke dunia healthpreneur juga membuat Fitria merasa memiliki satu langkah berbeda. Ia dapat membangun pemasukan sendiri sekaligus memiliki keleluasaan dalam mengatur waktu dan mengembangkan kemampuannya.

Namun, perjalanan tersebut tentu memiliki sisi lelah. Ada masa ketika ia merasa begitu lelah hingga tidak ingin bertemu banyak orang.

Ketika pasien homecare sedang ramai, ia harus melakukan pelayanan secara door to door dengan membawa berbagai peralatan kesehatan yang membutuhkan perhatian ekstra.

Bahkan, terkadang ia harus mengesampingkan rasa gengsi demi memberikan pelayanan terbaik.

Tantangan lainnya adalah ketika harus menangani pasien atau persalinan pada malam hari. Jam istirahat yang terganggu menjadi bagian dari pengorbanan yang harus ia jalani sebagai seorang tenaga kesehatan.

Meski begitu, Fitria memilih melihat semua pengalaman tersebut sebagai bagian dari perjalanan. Ia berharap dirinya dan semua orang dapat terus tumbuh dengan penuh cinta, keberlimpahan, kedamaian, keutuhan, kebebasan, serta rasa syukur.

Pesannya begitu kuat:

Hidup yang tidak diuji itu tidak ada harganya. Allah memberi jalan yang sulit hanya pada mereka yang istimewa.

Gunakan hati dengan baik, maka keajaiban selalu ada.” 

Perjalanan Fitria menjadi pengingat bahwa masa lalu yang berat tidak harus menentukan masa depan.

Terkadang, dari luka dan keterbatasan justru lahir keberanian untuk menciptakan jalan sendiri, tumbuh menjadi lebih kuat, dan akhirnya memberikan manfaat bagi banyak orang.

 

 

Source image: Fitria Febryanti