Ferren Louisa: Bertumbuh dalam Iman, Berkarya dengan Hati, dan Menjadi Berkat bagi Sesama

Nosel.id Jakarta– Di balik senyum hangat dan berbagai aktivitas yang dijalaninya, Ferren Louisa percaya bahwa setiap pencapaian dalam hidup bukanlah hasil usaha manusia semata.

Baginya, setiap langkah adalah penyertaan Tuhan, dipadukan dengan didikan orang tua yang membentuk karakter kuat sejak kecil.

Lahir dan besar di Surabaya, Ferren tumbuh dalam keluarga yang penuh kasih dengan pola asuh yang berpusat pada nilai-nilai Kristiani (Christ-centered). Orang tuanya dikenal sebagai sosok yang penuh cinta sekaligus bijaksana.

Meski penuh kasih, mereka mendidik anak-anaknya dengan disiplin agar memiliki mental yang tangguh dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Dari kecil kami diajarkan untuk kuat, bertanggung jawab, dan tidak mudah menyerah. Semua itu menjadi bekal yang sangat berharga sampai hari ini,” tutur Ferren.

Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi yang terus ia pegang dalam setiap perjalanan hidupnya, baik dalam karier, pelayanan, maupun kehidupan pribadi.

 

Berani Memulai dari Nol

Perjalanan Ferren menuju berbagai bidang yang kini digelutinya tidak terjadi secara instan.

Ia mengakui bahwa semua berawal dari dukungan Tuhan dan orang tua yang selalu mendorongnya mengembangkan potensi yang dimiliki.

Namun, ada satu prinsip penting yang ditanamkan kedua orang tuanya.

Mereka mendukung setiap mimpi dan passion Ferren, tetapi mengajarkannya untuk mandiri dalam membangun karier.

Alih-alih memberikan modal usaha, orang tuanya meminta Ferren memulai semuanya dari nol.

Pelajaran itu justru membentuk mental pantang menyerah yang kini menjadi salah satu kekuatannya.

Sejak usia 17 tahun, Ferren sudah mulai mengajar musik sebagai guru harpa. Kala itu ia hanya memiliki tiga murid. Dengan kesabaran, ketekunan, dan kualitas pengajaran yang terus ia tingkatkan, jumlah muridnya kini berkembang menjadi 19 siswa yang belajar harpa maupun piano.

Tak berhenti di dunia musik, Ferren juga mulai menapaki dunia modelling sejak usia 18 tahun. Pengalaman tersebut membantunya belajar lebih percaya diri berbicara dan tampil di depan kamera.

Bagi Ferren, setiap bidang yang dijalani selalu menghadirkan pelajaran baru tentang keberanian, kedisiplinan, dan proses bertumbuh.

 

Belajar dari Dunia Bisnis

Semangat untuk terus berkembang juga membawanya memasuki dunia bisnis kecantikan.

Saat pandemi COVID-19, Ferren memulai riset dan pengembangan produk skincare. Selama hampir dua tahun ia bersama tim mencari formula terbaik agar dapat menghadirkan produk yang benar-benar berkualitas.

Meski akhirnya memutuskan untuk tidak lagi melanjutkan bisnis tersebut dan hanya melayani pelanggan lama dengan sisa stok yang ada, ia tidak menganggap pengalaman itu sebagai kegagalan.

Sebaliknya, perjalanan tersebut menjadi sekolah kehidupan yang mengajarkannya tentang kesabaran, proses, pengambilan keputusan, hingga pentingnya memahami waktu yang tepat untuk melangkah maupun berhenti.

Baginya, setiap pengalaman selalu memiliki nilai yang dapat dipetik.

 

Ketika Hobi Menjadi Panggilan

Menjalani berbagai aktivitas sekaligus tentu membutuhkan kemampuan mengatur waktu yang baik.

Namun Ferren mengaku tidak pernah merasa terbebani. Sebab sebagian besar aktivitas yang dijalaninya memang berasal dari hobi yang ia cintai.

Saya menikmati semuanya, jadi rasanya seperti tidak sedang bekerja.”

Agar semua berjalan seimbang, Ferren menerapkan jadwal yang disiplin.

Kelas musik memiliki waktu yang sudah ditentukan, sementara pekerjaan modelling ia batasi maksimal dua kali dalam seminggu agar tidak mengganggu aktivitas mengajar.

Saat masih aktif mengembangkan bisnis skincare, ia juga meluangkan sekitar dua jam setiap hari untuk mengelola tim, memantau produksi, serta mempersiapkan berbagai proyek dan kolaborasi.

Menurutnya, kunci menjalankan banyak peran bukanlah bekerja tanpa henti, tetapi mengetahui prioritas dan menjaga komitmen terhadap jadwal yang telah dibuat.

 

Kesuksesan yang Menjadi Berkat

Di balik segala kesibukannya, Ferren memiliki doa yang sederhana namun sarat makna.

Ia berharap Tuhan terus membimbing perjalanan kariernya sehingga setiap keberhasilan yang diraih dapat menjadi berkat bagi lebih banyak orang.

Bagi Ferren, kesuksesan bukan sekadar pencapaian pribadi, melainkan kesempatan untuk memberi dampak positif bagi lingkungan sekitar.

Dalam kehidupan keluarga, ia berdoa agar hubungan yang telah dibangun dengan penuh kasih tetap terjaga hingga kelak memiliki anak dan cucu.

Ia ingin keluarganya terus hidup rukun, saling mendukung, dan tetap takut akan Tuhan dalam setiap musim kehidupan.

Sementara untuk kesehatan, ia berharap selalu diberi tubuh yang kuat dan sehat agar dapat terus berkarya dan melayani hingga usia senja.

 

Tetap Memilih Kebaikan

Di penghujung perbincangan, Ferren meninggalkan sebuah pesan yang lahir dari pengalaman hidupnya sendiri.

Ia menyadari bahwa hati yang tulus tidak selalu dihargai oleh semua orang. Ada kalanya kebaikan justru dianggap biasa, bahkan disalahartikan.

Namun hal itu tidak membuatnya berhenti memilih menjadi pribadi yang baik.

Ferren percaya bahwa setiap orang tetap perlu menjaga hati, mengetahui kapan harus melangkah pergi dari situasi yang tidak sehat, dan menyerahkan semuanya kepada Tuhan melalui doa.

 “A pure heart may be taken for granted. Choose kindness anyway, know when to walk away, and pray for them from a distance.”

Bagi Ferren Louisa, hidup bukan tentang membalas setiap perlakuan yang menyakitkan, melainkan tentang tetap menjaga ketulusan hati, terus bertumbuh dalam iman, dan menjadi saluran berkat di mana pun Tuhan menempatkannya.

Sebab pada akhirnya, keberhasilan terbesar bukan hanya diukur dari apa yang berhasil dicapai, tetapi dari seberapa banyak kasih, kebaikan, dan harapan yang dapat dibagikan kepada sesama melalui setiap langkah kehidupan.

 

 

Source image: Ferren Louisa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *