Nosel.id Jakarta- Ada perjalanan hidup yang tidak dibangun dalam semalam. Ia tumbuh dari doa, kerja keras, keberanian menghadapi keraguan, serta kesediaan untuk terus belajar meski harus berkali-kali jatuh dan mencoba kembali.
Perjalanan itu pula yang tergambar dari sosok dr. Novy Oktaviana, Sp.DVE, dokter sekaligus entrepreneur dan Founder Alzena Skincare Indonesia.
Berangkat dari sebuah desa kecil di Pati, Jawa Tengah, Novy tumbuh dalam keluarga sederhana yang menanamkan nilai kerja keras, kesederhanaan, menghargai sesama, dan keyakinan bahwa hidup akan lebih berarti ketika bisa memberikan manfaat bagi orang lain.
Bagi Novy, masa kecil bukan sekadar kenangan tentang sebuah tempat. Ada suasana rumah, kebersamaan keluarga, serta lingkungan yang membuatnya belajar menjadi dirinya sendiri.
“Sejauh apa pun kita melangkah, keluarga dan tempat kita bertumbuh akan selalu menjadi rumah untuk kembali,” tuturnya.
Ketika Anak Desa Bermimpi Menjadi Dokter
Menjadi dokter sebenarnya bukan cita-cita yang tiba-tiba muncul. Sejak remaja, Novy sudah memiliki keinginan besar untuk mengenakan jas putih dan mengabdikan diri kepada masyarakat.
Namun, jalan menuju cita-cita tersebut tidak selalu mudah. Sebagai anak desa dari keluarga sederhana, ia sempat menghadapi keraguan dari banyak orang.
Pertanyaan seperti apakah anak desa bisa menjadi dokter dan apakah ia mampu menempuh pendidikan kedokteran menjadi bagian dari perjalanan yang harus dihadapinya.
Alih-alih menyerah, keraguan tersebut justru menjadi bahan bakar untuk membuktikan bahwa latar belakang bukan alasan untuk berhenti bermimpi.
Dukungan terbesar datang dari orang tua. Mereka menanamkan keyakinan bahwa jika Novy berhasil menjadi dokter, ilmu tersebut harus digunakan untuk mengabdi dan memberikan manfaat.
Salah satu target awal yang ingin diwujudkannya adalah mendapatkan beasiswa untuk masuk pendidikan kedokteran.
Ketika kesempatan tersebut akhirnya datang, keyakinannya semakin kuat bahwa doa, niat baik, usaha, dan kesabaran akan menemukan jalannya.
“Apapun yang kita minta kepada Allah dengan niat baik dan mendatangkan manfaat, pasti akan dihadirkan di saat yang tepat,” ungkapnya.
Dari Garasi Rumah Berukuran 3×3 Meter
Setelah menyelesaikan pendidikan dan menjalani perjuangan sebagai dokter umum, Novy memulai praktik dengan kondisi yang sangat sederhana.
Ia membuka tempat praktik di garasi rumah sang ibu yang hanya berukuran sekitar 3×3 meter.
Pasien datang satu per satu. Tidak semuanya mampu membayar biaya pengobatan. Pada masa ketika akses layanan kesehatan belum seperti sekarang, Novy kerap memberikan pengobatan secara cuma-cuma kepada pasien yang memang tidak memiliki biaya.
Ia juga menjalankan home care hingga ke desa-desa.
Dari tempat praktik sederhana tersebut, perlahan kepercayaan masyarakat tumbuh. Pasien bertambah, pelayanan berkembang, hingga praktik tersebut kemudian berkembang menjadi sebuah klinik dengan beberapa karyawan.
Di saat yang sama, Novy mulai tertarik mendalami perawatan kulit. Ia mulai meracik berbagai produk, termasuk salep untuk masalah kulit, kosmetik, dan berbagai bahan perawatan kulit.
Sekitar tahun 2010, ia mulai memasarkan produk hasil racikannya sendiri dari pintu ke pintu.
Tidak ada jalan pintas. Tidak ada modal besar yang langsung membuat semuanya berkembang.
Yang ada adalah keberanian untuk memulai dari kecil.
Belajar Facial, Bahkan Harus Mengaku Lulusan SMK
Menariknya, perjalanan Novy di dunia kecantikan juga lahir dari kemauan untuk mempelajari hal-hal baru.
Teknik facial dasar ternyata tidak diajarkan dalam pendidikan kedokteran yang ia jalani. Karena itu, ia memutuskan mengikuti pelatihan facial di Semarang.
Untuk mengikuti pelatihan tersebut, Novy bahkan harus menyisihkan sebagian penghasilannya.
Ada cerita menarik dari masa tersebut. Saat mengikuti pelatihan, ia bahkan mengaku sebagai lulusan SMK agar bisa belajar keterampilan facial yang saat itu ingin ia kuasai.
Kini, keterampilan yang dahulu dipelajarinya dengan penuh perjuangan justru menjadi bagian penting dari bisnis yang ia bangun.
Novy kemudian tidak hanya mengembangkan kemampuan dirinya, tetapi juga melatih ratusan karyawan yang bekerja di brand miliknya.
Alzena Skincare, Buah dari Proses Panjang
Perjalanan membangun Alzena Skincare Indonesia tidak lahir dari keberhasilan instan.
Novy menyebut bisnis tersebut merupakan buah dari proses belajar, berbagai kegagalan, eksperimen, dan perjuangan panjang selama kurang lebih satu dekade sebelum akhirnya ia melanjutkan pendidikan spesialis di bidang kulit, kelamin, dan estetik.
Kini, Alzena Skincare telah berkembang hingga memiliki 83 cabang di berbagai wilayah Indonesia.
Di balik angka tersebut, terdapat perjalanan panjang seorang perempuan yang pernah memulai semuanya dari garasi rumah.
Bagi Novy, keberhasilan bisnis bukan semata-mata tentang jumlah cabang atau pertumbuhan angka. Ada tanggung jawab yang jauh lebih besar, yaitu bagaimana bisnis yang dibangun dapat membuka lapangan pekerjaan dan memberikan manfaat bagi semakin banyak orang.
Menemukan Passion di Dunia Dermatologi
Ketika semakin mengenal dunia dermatologi, Novy merasa menemukan bidang yang benar-benar sesuai dengan dirinya.
Menurutnya, kulit tidak hanya berkaitan dengan penampilan. Masalah kulit dapat memengaruhi kesehatan, rasa percaya diri, hingga kualitas hidup seseorang.
Ada kepuasan tersendiri ketika melihat pasien yang sebelumnya merasa tidak percaya diri karena kondisi kulitnya, kemudian perlahan dapat kembali nyaman dengan dirinya sendiri.
Bagi Novy, di situlah salah satu makna menjadi dokter kulit.
Bukan hanya membantu memperbaiki kondisi kulit, tetapi juga membantu seseorang menemukan kembali rasa percaya dirinya.
Dokter, Entrepreneur, Content Creator, dan Ibu
Saat ini, kehidupan Novy tidak hanya diisi dengan aktivitas sebagai dokter.
Ia juga menjalankan bisnis, mengembangkan empat brand dalam lini usaha yang didirikannya, membuat konten, bertemu dengan banyak tim, serta tetap menjalankan perannya dalam keluarga.
Tidak jarang satu hari diisi dengan berbagai macam agenda dan tanggung jawab.
Namun, Novy menyadari bahwa mengatur waktu bukan berarti harus mengerjakan semuanya secara bersamaan.
Baginya, yang terpenting adalah memahami prioritas.
“Manage waktu bukan berarti harus melakukan semuanya sekaligus, tetapi tahu mana yang menjadi prioritas,” katanya.
Ia juga belajar untuk tidak menuntut dirinya harus selalu sempurna.
Ada hari ketika produktivitas terasa maksimal. Namun, ada pula hari ketika hanya beberapa hal penting yang mampu diselesaikan.
Dan menurutnya, hal tersebut bukan sesuatu yang harus disalahkan.
Kunci yang terus ia pegang adalah discipline, consistency, serta mengetahui kapan waktunya berhenti sejenak untuk mengisi kembali energi.
Sukses yang Tetap Punya Makna
Di balik berbagai pencapaian profesional dan bisnis, Novy tetap menempatkan keluarga sebagai salah satu hal terpenting dalam hidupnya.
Doanya sederhana: keluarga selalu diberikan kesehatan, umur panjang, kebahagiaan, dan kesempatan untuk terus bersama.
Sebab, menurutnya, sehebat apa pun pencapaian seseorang di luar sana, keluarga tetap menjadi tempat paling penting untuk pulang.
Untuk karier dan bisnis, Novy berharap apa yang telah dibangunnya terus berkembang, bukan hanya secara angka, tetapi juga dalam manfaat yang diberikan.
Ia ingin bisnisnya mampu membuka lebih banyak lapangan pekerjaan, memberikan kontribusi sosial melalui yayasan yang didirikannya, serta membawa dampak positif bagi masyarakat.
Di tengah kesibukan sebagai dokter dan entrepreneur, ia juga ingin terus belajar dan berkembang sebagai manusia.
Baginya, pencapaian seharusnya tidak membuat seseorang lupa bersyukur ataupun kehilangan kerendahan hati.
Tidak Harus Menjadi yang Paling Cepat
Dari perjalanan panjangnya, Novy memiliki satu pesan sederhana untuk masyarakat Indonesia, khususnya mereka yang sedang berjuang mengejar impian.
Jangan terlalu sibuk membandingkan perjalanan diri sendiri dengan perjalanan orang lain.
Setiap orang memiliki waktu dan prosesnya masing-masing.
Belum sampai di tujuan hari ini bukan berarti gagal. Bisa jadi, seseorang memang sedang berada dalam proses yang harus dilewati untuk menjadi lebih kuat dan matang.
“Tidak harus menjadi yang paling cepat. Yang penting, jangan berhenti bertumbuh.”
Pesan tersebut terasa relevan dengan perjalanan hidup Novy sendiri.
Dari seorang anak desa di Pati yang pernah diragukan kemampuannya untuk menjadi dokter, memulai praktik dari garasi rumah berukuran 3×3 meter, memberikan pengobatan kepada masyarakat yang tidak mampu, belajar facial dengan biaya dari penghasilan sendiri, meracik produk dari rumah, hingga akhirnya membangun Alzena Skincare dengan puluhan cabang.
Semuanya tidak terjadi karena satu lompatan besar. Semua dibangun dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.
Terus belajar. Terus bekerja. Menjaga kesehatan. Menyayangi keluarga. Berani memiliki mimpi besar. Dan yang tidak kalah penting, memastikan setiap keberhasilan tetap memiliki manfaat bagi orang lain.
Sebab pada akhirnya, bagi dr. Novy Oktaviana, kesuksesan bukan hanya tentang seberapa tinggi seseorang mampu melangkah, tetapi tentang apakah perjalanan tersebut membuat hidupnya tetap bermakna, hati tetap tenang, dan keberadaannya membawa manfaat bagi sesama.
Source image: dr. Novy Oktaviana, Sp.DVE
