Nosel.id Jakarta – Bagi Dinda Rosita, kampung halaman bukan sekadar tempat dilahirkan, tetapi ruang yang membentuk karakter, semangat, dan mimpi-mimpinya.
Lahir dan besar di Desa Gilimanuk, Bali, ia tumbuh di lingkungan yang masih asri, jauh dari hiruk-pikuk kawasan wisata, dengan masyarakat yang ramah serta menjunjung tinggi nilai kebersamaan.
Di desa itulah Dinda menghabiskan masa kecil hingga menyelesaikan pendidikan SMA. Hari-harinya dipenuhi kebersamaan bersama keluarga, bermain dengan teman-teman, serta menikmati hangatnya kehidupan desa yang penuh rasa kekeluargaan.
Kenangan tersebut menjadi bekal berharga yang terus ia bawa dalam setiap langkah kehidupan.
Menjadi seorang prajurit TNI bukanlah pilihan yang datang secara tiba-tiba. Cita-cita itu telah tumbuh sejak duduk di bangku sekolah dasar.
Ia masih mengingat momen ketika seorang guru meminta seluruh murid menuliskan impian mereka di selembar kertas. Tanpa ragu, Dinda menuliskan satu kata yang hingga kini menjadi kenyataan: TNI.
Namun, perjalanan menuju impian itu tidak selalu mudah. Setelah lulus SMA, kondisi ekonomi keluarga membuatnya ingin segera bekerja agar dapat membantu orang tua.
Kesempatan itu datang ketika ia diterima sebagai pegawai kontrak di Dinas Perdagangan Kabupaten Jembrana dengan gaji sekitar Rp1,2 juta per bulan.
Meski bersyukur memiliki pekerjaan, Dinda menyadari bahwa status kontrak tidak memberikan kepastian untuk masa depan.
Sambil tetap bekerja, ia melanjutkan pendidikan di Universitas Terbuka (UT). Baru memasuki semester pertama, kesempatan yang selama ini dinantikannya akhirnya datang ketika pendaftaran calon prajurit TNI dibuka.
Tanpa mengikuti bimbingan belajar khusus, Dinda memilih mempersiapkan diri secara mandiri. Ia berlatih dengan disiplin, menjaga semangat, dan terus memperkuat keyakinannya.
Berbekal tekad yang kuat, kerja keras, serta doa yang tak pernah putus, ia berhasil melewati seluruh tahapan seleksi.
“Astungkara, saya lulus hanya dalam satu kali tes.”
Keberhasilan itu menjadi bukti bahwa mimpi besar tidak selalu membutuhkan jalan yang mudah, melainkan keberanian untuk terus mencoba dan tidak menyerah.
Kini, sebagai seorang prajurit TNI, Dinda memaknai profesinya sebagai bentuk pengabdian kepada bangsa sekaligus cara membalas perjuangan kedua orang tuanya.
Ia berharap dapat terus mengembangkan karier, mengemban setiap amanah dengan penuh tanggung jawab, serta menjadi kebanggaan keluarga.
Di setiap doa yang ia panjatkan, terselip harapan sederhana namun penuh makna: semoga Allah selalu memberikan kelancaran dalam setiap penugasan, membukakan jalan rezeki yang baik, serta mengizinkannya membahagiakan dan mengangkat derajat keluarga yang telah menjadi sumber kekuatannya sejak awal.
Menutup kisahnya, Dinda menyampaikan pesan bagi siapa pun yang sedang berjuang meraih impian.
“Jangan pernah menganggap dirimu tidak mampu, karena semua berawal dari niat, hati yang teguh, dan keikhlasan.
Setiap hari adalah kesempatan baru untuk melangkah lebih maju.”
Bagi Dinda Rosita, keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti bermimpi.
Dengan tekad, kerja keras, dan doa yang tulus, setiap orang memiliki kesempatan untuk mengubah masa depan dan mewujudkan cita-cita yang pernah dituliskan sejak kecil.
Source image: Dinda
