Nosel.id Jakarta- Bulan ini menjadi salah satu periode paling bersejarah dalam hidup Desi Ronia, atau yang akrab disapa Nia ini.
Di tengah kebahagiaan mempersiapkan pernikahan yang akan berlangsung pada tanggal 21, ia juga sedang menghadapi kenyataan bahwa hidupnya akan berubah dalam banyak hal sekaligus.
Nia akan meninggalkan tempat yang selama ini menjadi rumahnya, meninggalkan rutinitas yang telah ia jalani bertahun-tahun, dan memulai kehidupan baru bersama pasangan di Sintang, Kalimantan Barat.
Namun di balik semua kebahagiaan itu, ada perasaan haru yang sulit dijelaskan.
“Aku lahir dan besar di Lamandau, Kalimantan Tengah. Memang belum termasuk kota besar, tapi bagiku tempat ini sangat ramai dan penuh kenangan karena keluarga dan teman-temanku ada di sini semua,” ceritanya.
Perpindahan itu terasa semakin berat karena beberapa bulan sebelumnya, tepat pada Februari lalu, Nia harus kehilangan sosok yang sangat ia cintai: sang ayah.
Kepergian ayah menjadi luka yang masih tersimpan dalam hatinya hingga hari ini.
Di satu sisi ia sedang menyiapkan hari bahagia yang selama ini diimpikan banyak perempuan.
Namun di sisi lain, ada kerinduan yang tak bisa lagi terobati karena sosok yang biasanya menjadi tempat bersandar kini sudah tiada.
“Yang bikin berat sebenarnya bukan cuma karena harus pindah dan meninggalkan Mama, tapi karena Bapak tercinta meninggal beberapa bulan lalu,” ujarnya pelan.
Meski begitu, Nia memilih untuk tetap melangkah. Ia percaya bahwa kehidupan harus terus berjalan, dan setiap fase baru adalah bagian dari perjalanan yang perlu dijalani dengan penuh syukur.
Saat ini ia bekerja sebagai guru taman kanak-kanak di PT Sumber Mahardhika Graha. Menjadi guru bukan sekadar pekerjaan baginya, melainkan pengalaman yang memberikan banyak pelajaran tentang kesabaran, kasih sayang, dan arti sebuah perkembangan kecil yang begitu berharga.
Setiap hari ia bertemu dengan anak-anak yang sedang belajar mengenal dunia.
Baginya, melihat perkembangan mereka, mulai dari keberanian berbicara, kemampuan bersosialisasi, hingga pencapaian sederhana lainnya, selalu menghadirkan kebahagiaan tersendiri.

“Aku senang karena setiap hari ada kegiatan, ketemu banyak orang, dan yang paling menyenangkan melihat perkembangan anak-anak yang kita ajar,” katanya.
Namun setelah menikah nanti, ia juga akan mengakhiri perjalanan kariernya sebagai guru karena harus mengikuti suami pindah ke Kalimantan Barat.
Meski demikian, dunia kreatif tetap menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari dirinya.
Di luar pekerjaannya sebagai guru, Nia aktif membantu sebuah coffee shop milik temannya.
Mulai dari membuat konten media sosial, mendesain flyer promosi, hingga mengelola berbagai kebutuhan visual usaha tersebut.
Kemampuan desain yang dimilikinya bahkan berkembang menjadi jasa freelance yang cukup sering ia kerjakan di sela-sela aktivitas sehari-hari.
Kreativitas itulah yang membuatnya selalu memiliki ruang untuk terus berkarya.
Dalam perjalanan hidupnya, ada satu penyesalan yang masih tersimpan di dalam hati. Saat sang ayah menjalani perawatan di rumah sakit, kesibukan dan berbagai keadaan membuatnya tidak bisa menemani lebih banyak waktu.
Ia juga tidak sempat bertemu untuk terakhir kalinya.
Momen itu menjadi salah satu kehilangan yang paling membekas dalam hidupnya.
Namun dari pengalaman tersebut, Nia belajar bahwa waktu bersama orang-orang yang kita cintai adalah hal yang tidak bisa ditunda.
Karena itu, hingga hari ini, salah satu sumber kekuatan terbesar dalam hidupnya adalah sang ibu.
Sebagai pribadi yang mengaku sangat ekstrovert, Nia memiliki cara tersendiri untuk mengatasi berbagai tekanan hidup. Ia senang bertemu teman-teman, berbagi cerita, dan menghabiskan waktu bersama orang-orang terdekat.
Tetapi di atas semuanya, ada satu hal sederhana yang selalu membuatnya merasa tenang.
“Cukup lihat Mama ada di rumah setiap hari, itu sudah bikin aku merasa lebih baik,” ujarnya.
Belakangan ini, selain fokus mempersiapkan pernikahan, Nia juga sedang menjalani perjalanan transformasi dirinya melalui olahraga.
Ia mulai rutin pergi ke gym dan menjaga pola makan. Awalnya, banyak orang mengomentari bentuk tubuhnya.
Saat berat badannya mencapai 90 kilogram, tidak sedikit yang menyuruhnya diet atau memberikan berbagai komentar yang kurang menyenangkan.
Namun motivasi terbesarnya bukan berasal dari omongan orang lain.
Ia melakukannya karena keinginan dirinya sendiri.
Kini berat badannya telah turun menjadi 85 kilogram, dan yang paling membuatnya bahagia bukan sekadar angka di timbangan, melainkan kesadaran bahwa dirinya mampu melakukan sesuatu yang dulu terasa sulit.
“Aku gym bukan karena omongan orang. Aku melakukannya karena memang aku mau. Dan ternyata aku bisa,” katanya bangga.
Perjalanan tersebut membuatnya semakin memahami pentingnya kesehatan. Menurutnya, kesehatan bukan hanya tentang penampilan, tetapi tentang investasi jangka panjang untuk masa depan.
Karena itulah ia selalu mengajak siapa pun untuk mulai bergerak dan berolahraga secara rutin, meskipun hanya dua atau tiga kali dalam seminggu.
Bagi Nia, perubahan besar selalu dimulai dari langkah-langkah kecil yang dilakukan dengan konsisten.
Kini, menjelang hari pernikahannya, ia tidak hanya sedang mempersiapkan pesta dan kehidupan baru, tetapi juga sedang mempersiapkan versi terbaik dari dirinya sendiri.
Harapannya sederhana, yaitu selalu diberikan kesehatan agar dapat menjalani kehidupan dengan baik, mendampingi keluarga, dan menikmati setiap fase yang akan datang.
Melalui perjalanan hidupnya, ia ingin meninggalkan satu pesan yang selalu ia pegang erat:
“Jangan berubah untuk menjadi lebih baik dari orang lain.
Berubahlah untuk menjadi lebih baik dari dirimu yang sekarang.”

Karena pada akhirnya, hidup bukanlah perlombaan dengan orang lain.
Hidup adalah perjalanan untuk terus bertumbuh, berdamai dengan kehilangan, mensyukuri apa yang dimiliki, dan menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari.
Dan Desi Ronia sedang membuktikan bahwa meski hidup menghadirkan perpisahan, kesedihan, dan perubahan besar sekaligus, selalu ada harapan baru yang menunggu di depan.
Source image: desironia






