Cheryl Lidia Regar, CSA: Dari Desa Waleure hingga Panggung Sosial Nasional

Nosel.id Jakarta- Cheryl Lidia Regar memiliki perjalanan hidup yang kaya akan lintas daerah dan pengalaman.

Ia berasal dari Balikpapan, Kalimantan Timur, namun lahir di Tomohon, Sulawesi Utara, dan menghabiskan masa kecilnya di Desa Waleure, Minahasa.

Sebuah kampung indah yang hingga kini tak pernah lepas dari ingatannya.

Saat masih duduk di bangku sekolah dasar, Cheryl dan teman-temannya setiap hari melewati hamparan sawah yang hijau dan menenangkan.

Pemandangan sederhana itu menjadi bagian dari kenangan masa kecil yang membentuk rasa syukur dan kecintaannya pada alam.

Waleure dikenal dengan warganya yang ramah, sopan, dan mayoritas berprofesi sebagai petani lingkungan yang menanamkan nilai kebersamaan dan kedekatan dengan alam sejak dini.

Perjalanan karier Cheryl dimulai lebih dari 10 tahun lalu sebagai digital creator.

Dunia digital menjadi ruang awal baginya untuk berekspresi, belajar berkomunikasi, dan membangun kesadaran akan isu-isu di sekitarnya.

Pada tahun 2019, saat masih menjadi siswi SMK Negeri 3 Balikpapan jurusan Teknik Komputer Jaringan, Cheryl mulai aktif di bidang lingkungan melalui Green Generation Kaltim.

Pendidikan dan aktivitas sosial berjalan beriringan.

Dari lingkungan sekolah dan organisasi, tumbuh keinginan dalam dirinya untuk berkontribusi lebih luas.

Ia pun memberanikan diri mengikuti Duta Wisata Balikpapan, yang menjadi titik awal perjalanannya di dunia pageant.

Hasilnya tak main-main, Cheryl terpilih sebagai Putri Pariwisata Kota Balikpapan, kemudian melangkah sebagai Wakil 1 Putri Pariwisata Provinsi Kalimantan Timur sekaligus Putri Persahabatan.

Tak berhenti di sana, ia juga dipercaya sebagai Duta Humas Polda Kalimantan Timur.

Semua peran itu ia jalani dengan penuh tanggung jawab, sambil tetap menjaga hubungan baik dengan siapa pun yang pernah mendukung langkahnya.

Bagi Cheryl, pencapaian bukan tentang gelar semata, melainkan tentang proses, etika, dan keberlanjutan relasi.

Sejak kecil, musik telah menjadi bagian dari hidupnya.

Ia belajar gitar secara otodidak, lalu sempat mengikuti les piano selama sebulan, cukup untuk membuatnya mampu memainkan berbagai chord dengan feeling.

Banyak waktunya dihabiskan bermain musik di gereja, yang menjadi ruang awal pembentukan karakter dan disiplin bermusik.

Tantangannya justru muncul ketika harus menyesuaikan diri dengan selera musik non-gospel di luar gereja, sebuah proses adaptasi yang memperkaya sudut pandangnya.

Selain musik, travelling menjadi hobi yang mencerminkan keberanian dan kemandiriannya. Sejak SMP, Cheryl sudah terbiasa bepergian sendiri.

Kepercayaan orang tua ia jaga dengan penuh tanggung jawab.

Salah satu pencapaian pribadinya yang paling membanggakan adalah saat ia berhasil mendaki Gunung Rinjani dengan carrier penuh, sebuah simbol ketangguhan fisik dan mental yang ia bangun dari waktu ke waktu.

Kecintaannya pada kegiatan sosial dan lingkungan kemudian membawanya ke Ciro Waste, sebuah inisiatif pengelolaan sampah berbasis aplikasi.

Bersama tiga founder lainnya, Ciro Waste awalnya dibangun untuk Balikpapan, hingga akhirnya berkembang ke tingkat nasional. Cheryl tercatat sebagai relawan pertama sekaligus pegawai pertama yang ikut membangun Ciro dari awal.

Tantangannya besar, waste management berbasis aplikasi adalah hal baru kala itu namun dukungan Pemerintah Kota Balikpapan menjadi salah satu faktor penting keberhasilannya.

Ke depan, Cheryl berharap setiap bidang yang ia geluti dapat terus berkembang sesuai potensinya masing-masing.

Ia ingin membangun karier yang sejalan dan mendukung aktivitas sosialnya, serta selalu mendapat dukungan dari keluarga yang menjadi fondasi terkuat hidupnya.

Dalam ranah sosial, Cheryl terus menggaungkan pentingnya self-love di berbagai platform.

Baginya, perubahan besar selalu dimulai dari kemampuan seseorang untuk mengenali dan menghargai kapasitas dirinya sendiri.

Sementara untuk isu lingkungan, ia berharap semakin banyak anak muda sadar bahwa platform yang mereka miliki sekecil apapun cukup kuat untuk menyuarakan kondisi lingkungan hari ini.

Menutup kisahnya, Cheryl Lidia Regar, CSA, menyampaikan pesan yang lahir dari perjalanan hidupnya:

 “Jangan pernah meragukan diri sendiri. Karena dari percaya pada potensi diri, kita bisa menemukan hal-hal di luar ekspektasi kita. You’ll never know until you try.” 

 

 

 

Source image: Cheryl Lidia Regar, CSA