Belen Rahmogontha, Hidup Sehat Itu Sangatlah Baik!

Nosel.id Jakarta- Di tengah hiruk-pikuk Bekasi, ada sebuah kampung bernama Cibitung yang berdetak dengan irama berbeda.

Di sinilah Belen Rahmogontha menghabiskan hari-harinya, dikelilingi gemericik selokan kecil, sapaan hangat tetangga dari balik pagar, dan kebun-kebun kecil yang ditata rapi.

Warga sini saling menjaga seperti keluarga,” ujarnya sambil tersenyum.

Kehidupan gotong royong bukan sekadar tradisi, tapi nafas keseharian: dari kerja bakti Jumat pagi hingga berbagi kue lebaran.

Dalam ekosistem inilah Belen menumbuhkan filosofi hidupnya yang sederhana namun mendalam: kesehatan dimulai dari kesadaran kecil di lingkungan sendiri.

Sebagai pelaku usaha kecil, Belen paham betul arti konsistensi. Usahanya yang ia jaga tanpa menyebut detail adalah cermin kesabaran:

Bisnis kecil itu seperti menanam padi. Butuh penyiraman tiap hari, bukan sekadar menunggu panen.

Prinsip ini ia terapkan pula pada rutinitas larinya.

Sementara pelari lain sibuk mendaftar marathon, Belen memilih jalur berbeda:

Saya cukup lari sendiri di sekitar rumah. Pagi-pagi buta, saat udara masih sepi.”

Tanpa GPS tracker atau sepatu mahal, ia menyusuri gang sempit Cibitung dengan langkah mantap.

Kadang ditemani kicau burung gereja, kadang oleh bunyi gerobak bakso lewat.

Target saya bukan medali, tapi pertemuan rutin dengan diri sendiri,” katanya.

Dalam kesederhanaan ini, ia menemukan kebebasan: tak ada tekanan catatan waktu, hanya dialog antara napas dan tanah.

Bagi Belen, lari bukanlah aktivitas spektakuler. Ia menolak dikatakan atlet

“Saya hanya ibu rumah tangga yang ingin badan tetap lincah”.

Pola latihannya pun alami: 3-4 kali seminggu, 20-30 menit per sesi, melalui rute yang sama.

Lihat pohon asam tua di ujung jalan itu? Itu patokan putar balik saya,” tunjuknya.

Justru pengulangan inilah yang ia yakini sebagai kunci: “Seperti sholat lima waktu: konsistensi menghasilkan kekuatan.”

Ketika ditanya kenapa tak pernah ikut lomba, jawabannya jernih:

Lari itu ibarat sholat tahajud lebih bermakna ketika dilakukan sendiri, dengan hati ikhlas. Sehat itu tujuan utama, bukan piala.

Dari balik kesederhanaannya, Belen menyimpan kebijaksanaan visioner:

Olahraga rutin itu seperti menabung receh. Sekarang rasanya sedikit, tapi nanti di masa tua, tabungan itu jadi emas.

Ia kerap mengingatkan tetangga: “Jangan tunggu sakit baru gerak! Mencegah lebih murah daripada mengobati.

Harapannya untuk masyarakat Cibitung tak sekadar wacana, melainkan wujud nyata yang siap diejawantah: membangun lingkungan walkable dengan trotoar yang lebih lebar, aman, dan teduh untuk kenyamanan pejalan kaki.

Tak hanya itu, ia juga membayangkan tumbuhnya komunitas sehat melalui inisiatif kerja bakti olahraga mingguan yang menyatukan warga dalam semangat kebersamaan.

Melengkapi dua pilar tersebut, edukasi praktis menjadi kunci, dengan mengajak warga memanfaatkan pekarangan rumah untuk membudidayakan tanaman obat, menciptakan solusi kesehatan sederhana sekaligus hijau di tengah permukiman.

Pesannya kepada seluruh pembaca:

“Hidup lebih sehat itu seperti menyiram tanaman. Dimulai dari hal kecil: minum air putih cukup, jalan 5.000 langkah sehari, tidur tepat waktu.

Lama-lama kebiasaan ini akan berbuah imun kuat dan hati senang.”

 

Source image: bellen

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *