Nosel.id Jakarta- Bagi Bdn. L. Desia Ridayanti, S.Tr.Keb, atau disapa Desia Buleleng Bali bukan hanya titik awal di peta.
Di sanalah hatinya dibesarkan, di antara suasana yang tenang, masyarakat yang hangat, dan keluarga yang menjadi sumber kekuatan terbesarnya.
Ia tumbuh dalam lingkungan sederhana, tetapi penuh cinta dan nilai hidup yang membentuk karakternya hingga hari ini.
Di tempat itulah muncul dorongan kuat dalam dirinya untuk selalu membantu orang lain.
Sejak kecil, Desia memimpikan menjadi seorang dokter. Namun hidup tak selalu berjalan sesuai rencana. Biaya pendidikan yang tidak terjangkau memaksanya menata ulang mimpinya.
Tapi bukan berarti ia menyerah. Ia hanya memilih jalan lain yang tetap seirama dengan panggilan hatinya di dunia kesehatan.
“Saya tidak ingin jauh dari ruang yang membantu, menenangkan, dan hadir di momen penting kehidupan orang lain,” ujarnya.
Dari sanalah langkahnya menuju profesi bidan dimulai.
Dan semakin jauh ia melangkah, semakin ia menyadari bahwa jalur ini bukanlah rencana cadangan, melainkan takdir yang membimbingnya menuju makna.
Di ruang persalinan, ia belajar tentang keberanian, keajaiban, sekaligus rapuhnya kehidupan.
Setiap tangis pertama bayi, setiap senyum lelah tapi bahagia dari seorang ibu, menjadi pengingat bahwa pekerjaannya adalah bagian dari kisah manusia yang paling awal.
Namun di balik semua itu, ada sisi lain yang tak terlihat oleh banyak orang.
Tekanan emosional, keputusan cepat yang menyangkut nyawa, hari-hari melelahkan yang menuntut fisik dan mental untuk tetap kuat.

Bdn. L. Desia Ridayanti, S.Tr.Keb
Tapi bagi Desia, semua rasa lelah itu terbayar lunas setiap kali ia melihat pasiennya pulih dan selamat.
Kini, perjalanan kariernya semakin meluas. Selain bekerja sebagai bidan, Desia melanjutkan pendidikan di Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana.
Harapannya sederhana namun besar: agar ilmu yang ia pelajari bisa memberi dampak yang lebih luas bagi masyarakat.

“Semoga keluarga saya selalu diberi kesehatan. Semoga rezeki semakin berkah, dan hidup memberi kesempatan baru untuk terus bertumbuh,” doanya.
Untuk siapa pun di luar sana yang sedang berjuang, Desia menitipkan pesan:
“Tidak apa-apa pernah jatuh. Yang penting, jangan berhenti percaya bahwa kamu bisa bangkit.
Kita semua berjalan dengan luka masing-masing, tapi kita juga punya kekuatan untuk menyembuhkan diri sendiri.”
Sosok Desia mengingatkan kita bahwa kadang, jalan hidup yang tampak sederhana bisa menjadi yang paling bermakna.
Dan bahwa takdir sering kali ditemukan bukan saat kita mencapai mimpi awal, tetapi saat kita berani melangkah dengan hati yang tetap ingin memberi.
Source image: desia








