Auliya Nanda Kanita: Mengabdi dengan Hati, Menjaga Kehidupan dengan Ketulusan

Nosel.id Jakarta- Auliya Nanda Kanita berasal dari Kota Bekasi, Jawa Barat. Ia tumbuh dalam keluarga yang hangat dan penuh dukungan, tempat di mana nilai-nilai kerja keras, kerendahan hati, serta kepedulian terhadap sesama ditanamkan sejak usia dini.

Dari lingkungan keluarga itulah tumbuh keyakinan bahwa kebahagiaan sejati bukan hanya berasal dari apa yang dimiliki, melainkan dari manfaat yang mampu diberikan kepada orang lain.

Prinsip tersebut kemudian mengantarkannya memilih jalan hidup sebagai seorang bidan, profesi yang baginya adalah panggilan untuk melayani dan mengabdi.

Perjalanan karier Auliya dimulai di Puskesmas Karang Kitri, Kota Bekasi, di bawah naungan Dinas Kesehatan Kota Bekasi.

Selama lebih dari lima tahun, ia memberikan pelayanan kebidanan kepada ibu hamil, ibu nifas, bayi baru lahir, balita, hingga pelayanan keluarga berencana.

Tak hanya itu, ia juga dipercaya menjadi Koordinator Program Kesehatan Calon Pengantin (CATIN) serta Bidan Bina Wilayah (BINWIL) yang membina Posyandu dan kader kesehatan di wilayah kerjanya.

Memasuki babak baru pengabdiannya, Auliya melanjutkan tugas di Puskesmas Jatimekar.

Di sana ia mengemban amanah sebagai Koordinator Program Tuberkulosis (TB), Kusta, dan Kesehatan Calon Pengantin, sekaligus bertanggung jawab sebagai BINWIL 5.

Peran tersebut memperluas ruang pengabdiannya, mulai dari pengendalian penyakit menular, pembinaan wilayah, hingga peningkatan kualitas pelayanan kesehatan primer bagi masyarakat.

Semangat belajar menjadi bagian yang tidak pernah lepas dari dirinya. Auliya terus mengembangkan kompetensi dengan mempelajari Surveilans Kesehatan Masyarakat, agar mampu memahami pola penyakit, menganalisis data kesehatan, serta mendukung pengambilan keputusan berbasis bukti.

Baginya, tenaga kesehatan masa kini tidak cukup hanya memiliki kemampuan klinis, tetapi juga harus mampu membaca kebutuhan masyarakat melalui data sehingga pelayanan yang diberikan semakin tepat sasaran.

Di luar profesinya sebagai tenaga kesehatan, Auliya memiliki hobi traveling. Baginya, setiap perjalanan menghadirkan pengalaman baru, memperluas cara pandang, sekaligus menjadi ruang untuk mengisi kembali energi.

Ia percaya bahwa memiliki banyak aktivitas bukan berarti kehilangan fokus, tetapi justru menjadi cara menjaga keseimbangan antara pengabdian, keluarga, dan pengembangan diri.

Menjadi bidan adalah perjalanan yang penuh makna. Auliya bersyukur dapat menyaksikan lahirnya kehidupan baru, mendampingi ibu dan keluarga di momen-momen paling berharga, melihat pasien kembali sehat, hingga berkontribusi dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.

Setiap ibu yang berhasil melewati persalinan dengan selamat, setiap bayi yang lahir sehat, setiap pasien TB yang sembuh, hingga setiap calon pengantin yang semakin memahami pentingnya kesehatan reproduksi merupakan kebahagiaan yang tidak dapat diukur dengan angka.

Di balik semua itu, profesi ini juga menuntut kesiapsiagaan, ketangguhan, dan pengorbanan. Menghadapi situasi darurat, mengambil keputusan dalam waktu singkat, serta tetap memberikan pelayanan terbaik meski harus mengorbankan waktu bersama keluarga adalah bagian dari tanggung jawab yang ia jalani dengan penuh keikhlasan.

Namun, ia selalu mengingat alasan mengapa memilih profesi ini: untuk menjadi bagian dari harapan banyak orang.

Harapan terbesar Auliya adalah agar Allah senantiasa memberikan kesehatan, keberkahan, dan kesempatan untuk terus bermanfaat bagi masyarakat.

Ia juga berharap keluarganya selalu diberikan kebahagiaan dan perlindungan. Dalam perjalanan karier, ia ingin terus berkembang menjadi tenaga kesehatan yang profesional, berintegritas, dan mampu memberikan dampak nyata bagi kesehatan masyarakat Indonesia.

Auliya percaya bahwa perubahan besar selalu diawali dari langkah-langkah kecil berupa edukasi, pencegahan, dan kepedulian terhadap sesama.

Melalui kisah hidupnya, Auliya ingin mengajak setiap perempuan untuk tidak pernah berhenti belajar, bermimpi, dan berbuat baik.

Setiap orang memiliki perjalanan hidup yang berbeda. Jangan pernah merasa tertinggal hanya karena melihat pencapaian orang lain. Fokuslah pada proses, karena keberhasilan dibangun dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.

Jangan takut bermimpi, jangan berhenti belajar, dan jangan pernah lelah berbuat baik.

Sebab kesuksesan bukan hanya tentang seberapa tinggi kita melangkah, tetapi tentang seberapa banyak kehidupan yang kita sentuh dengan kebaikan.”

Sebagai prinsip hidup yang selalu ia pegang, Auliya menutup kisahnya dengan sebuah kalimat sederhana namun bermakna:

Bekerjalah dengan hati, belajarlah tanpa henti, dan jadilah alasan seseorang tetap percaya bahwa kebaikan itu masih ada.”

 

Source image: Auliya Nanda Kanita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *