Nosel.id Jakarta- Arin Lubis adalah potret perempuan perantau yang berani mengejar mimpi masa kecilnya.
Sejak tahun 2022, Arin menetap di Jakarta untuk bekerja di salah satu stasiun televisi nasional terbesar di Indonesia. Sebuah impian yang telah ia simpan sejak kecil.
Namun, sebelum Jakarta menjadi rumahnya hari ini, Palembang adalah tempat yang membentuk siapa dirinya.
Palembang bukan sekadar kota kelahiran bagi Arin, tetapi ruang penuh kenangan tentang keluarga, sahabat, dan kehangatan hidup.
Kota ini lekat dengan identitas kuliner yang kuat, pempek dan cuko yang hadir dalam keseharian, bahkan untuk sarapan.
Pempek gerobakan hingga pempek keliling menjadi bagian dari hidup masyarakat Palembang.
Merantau ke Jakarta justru membuat Arin semakin menyadari betapa berharganya hal-hal sederhana itu.
Di tengah hiruk pikuk ibu kota, ia belajar merindukan rasa pulang, sesuatu yang tidak selalu bisa dibeli, bahkan dengan harga mahal sekalipun.
Di balik kesibukannya sebagai pekerja media, Arin dikenal aktif membuat konten seputar olahraga, mulai dari lari hingga berbagai aktivitas fisik lainnya.

Namun, perjalanan ini tidak bermula dari ambisi pencitraan atau tren gaya hidup sehat semata.
Semuanya berangkat dari satu hal yang sangat personal: cinta kepada suami.
Menjelang pernikahan, Arin dan suaminya menjalani pemeriksaan kesehatan kesuburan.
Hasilnya menunjukkan kondisi obesitas pada sang suami berdampak pada fertilitas.
Dari titik itulah, Arin mengambil keputusan penting, ia ingin suaminya sehat, dan ia ingin menua bersama dalam waktu yang panjang.
Pada Mei 2024, mereka memulai program diet dengan dokter gizi.
Meski secara medis Arin tidak diwajibkan berdiet karena indeks massa tubuhnya masih normal, ia memilih untuk membersamai proses sang suami, berjalan beriringan menuju hidup yang lebih sehat.
Atas rekomendasi dokter, Arin memulai olahraga paling sederhana: berjalan kaki. Tanpa disadari, langkah kecil itu membawa perubahan besar. Ia mulai menikmati prosesnya.
Pada Desember 2024, Arin memberanikan diri belajar berlari. Dari situlah ia menemukan kebahagiaan baru.
Lari bukan hanya membuat tubuhnya lebih bugar dan lingkar tubuhnya menyusut, tetapi juga menghadirkan ketenangan batin.
Setiap sesi lari membantunya melepas stres, meredakan kecemasan, dan membangun koneksi yang lebih jujur dengan dirinya sendiri.
Kini, lari telah menjadi bagian penting dalam hidup Arin.
Ia aktif mengikuti komunitas dan berbagai ajang lari, sekaligus menemukan ruang pertemanan dan peluang baru.
Bagi Arin, lari adalah terapi, sebuah proses belajar tentang kesabaran, kegagalan, dan keberanian keluar dari zona nyaman.
Meski pernah mengalami cedera, ia menjadikannya sebagai pelajaran untuk terus belajar dan lebih mengenal batas tubuhnya.
Dalam setiap langkah hidupnya, Arin memanjatkan doa yang sederhana namun dalam maknanya.
Ia berharap seluruh aspek kehidupannya—keluarga, karier, rumah tangga, kesehatan, sosial, dan ekonomi selalu diliputi keberkahan.
Baginya, ketenangan hidup bukan ditentukan oleh seberapa banyak yang dimiliki, melainkan seberapa berkah yang menyertainya.
Lebih dari itu, Arin ingin hidupnya memberi arti. Ia ingin dikenang sebagai pribadi yang baik dan bermanfaat bagi orang lain.

Sebagai pesan untuk para pembaca di seluruh Indonesia, Arin meninggalkan refleksi yang jujur dan membumi:
Sering kali, penghalang terbesar antara diri kita dan kebahagiaan atau kesuksesan adalah pikiran kita sendiri. Jangan takut pada proses.
Cobalah, gagal, ulangi, pelajari, dan tetap konsisten. Jika di tengah proses itu kamu terus jatuh cinta, meski penuh salah dan kegagalan, teruskanlah.
Karena bisa jadi, di situlah jalan hidupmu sedang dibentuk.
Source image: arin








