Nosel.id Jakarta- Ajeng Saras tumbuh di Balikpapan, Kalimantan Timur, kota yang dikenal sebagai kota minyak.
Masa kecilnya dihabiskan di komplek Pertamina yang sejuk, dikelilingi pepohonan hijau, hutan kota, dan suasana yang tenang.
Meski kehidupan di komplek cenderung tertutup dan jarang terjadi interaksi sosial antarwarga, Balikpapan tetap meninggalkan kesan mendalam bagi Saras sebagai tempat yang membentuk karakter mandiri dan tangguh.
Sejak sekolah, Saras dikenal sebagai pribadi yang aktif dan haus pengalaman.
Ia terlibat dalam berbagai kegiatan seperti Pramuka, Paskibraka, OSIS, Pecinta Alam, hingga Paduan Suara.
Di luar aktivitas sekolah, ia juga sempat menekuni dunia modelling hingga lulus SMA.
Semua pengalaman itu menjadi fondasi penting dalam membentuk kepercayaan diri dan keberaniannya untuk terus mencoba hal baru.

Kini, lebih dari dua dekade berlalu, Saras telah menjalani karier sebagai wanita profesional selama kurang lebih 22 tahun.
Di samping kesibukan kariernya, ia juga mengembangkan bisnis kuliner serta jasa konsultan.
Namun, di balik perannya sebagai perempuan karier, Saras dikenal luas sebagai sosok yang aktif di dunia olahraga dan petualangan, mulai dari lari, bersepeda, hingga motoran.
Kecintaannya pada running, sepeda, dan motor tidak hadir begitu saja.
Bagi Saras, aktivitas-aktivitas tersebut adalah simbol kebebasan, petualangan, dan tantangan.
Ia menikmati proses menjelajah tempat-tempat baru, terutama alam terbuka.
Baik saat motoran maupun berlari, Saras lebih memilih rute-rute alam.
Pemandangan hijau, suara sungai yang mengalir, dan udara segar menjadi cara terbaik baginya untuk menenangkan pikiran dan me-recharge energi setelah rutinitas kerja.
Dalam kesehariannya, Saras berlatih secara konsisten.
Ia memanfaatkan waktu sore sepulang kerja di hari kerja, serta pagi hari saat akhir pekan.
Sejumlah event lari bergengsi telah ia ikuti, di antaranya Siksorogo Lawu Ultra, Dieng Caldera, BTN Jakarta International Marathon, Maybank Marathon, dan Borobudur Marathon.
Banyak di antaranya merupakan ajang trail running dengan jarak hingga 30 kilometer dan elevasi di atas 1.500 meter, tantangan yang menuntut kesiapan fisik dan mental yang serius.
Meski tidak menargetkan podium, Saras memandang setiap race sebagai bentuk komitmen pada diri sendiri.
Persiapan latihan menjadi fase paling menantang, mulai dari menghadapi cuaca yang tak menentu hingga menjaga kondisi tubuh agar tetap prima menjelang event.
Ia bahkan memiliki prinsip tersendiri: lebih baik kehujanan di tengah latihan daripada sejak awal, demi menjaga kesehatan.
Selain latihan uphill dan downhill, Saras juga melengkapi rutinitasnya dengan strength training di gym untuk memperkuat otot dan mencegah cedera.
Untuk masa depan, Saras memanjatkan doa sederhana namun penuh makna.
Ia berharap selalu diberikan rezeki, keberlimpahan, kesehatan, kekuatan, serta kelancaran dalam setiap rencana, usaha, dan pekerjaan.
Ia juga percaya bahwa apa pun yang belum terwujud akan menemukan jalannya sendiri pada waktu yang tepat.
Menutup kisahnya, Ajeng Saras meninggalkan pesan kuat bagi siapa pun yang membaca perjalanannya:

“Jangan terburu-buru dan fokus pada hasil.
Nikmati setiap prosesnya walaupun kadang terasa menyakitkan.
Karena kekuatan yang besar biasanya terbentuk dari rasa sakit yang juga luar biasa.”
Sebuah pengingat bahwa hidup bukan tentang seberapa cepat sampai, melainkan seberapa dalam kita belajar dan bertumbuh sepanjang perjalanan.
Source image: Ajeng Saras








