Nosel.id Jakarta- Setiap orang memiliki perjalanan hidup yang unik, penuh warna, sekaligus tantangan yang membentuk dirinya.
Bagi Agnes Win, perjalanan itu dimulai dari dua kota dengan karakter yang sangat berbeda: Jakarta yang dinamis dan Dumai yang tenang.
Dari dua tempat inilah ia belajar memahami kehidupan, tentang mimpi, luka, serta keberanian untuk menjadi diri sendiri.
Agnes lahir dari keluarga dengan latar belakang dua kota. Ayahnya berasal dari Jakarta, sementara ibunya berasal dari Dumai, Riau.
Ia tumbuh besar di Jakarta, sebuah kota metropolitan yang bergerak cepat dan penuh kompetisi. Kehidupan di ibu kota mengajarkannya banyak hal tentang ambisi, kerja keras, dan keberanian untuk bermimpi besar.
Namun, di balik gemerlapnya Jakarta, Agnes pernah berada di titik ketika ia mempertanyakan dirinya sendiri.
Hiruk-pikuk kota yang tidak pernah benar-benar berhenti, kemacetan yang seakan menjadi ritme harian, serta tekanan untuk terus bergerak maju membuatnya merasa perlu mengambil jarak sejenak.
Langkah kakinya kemudian membawanya kembali ke Dumai, kota asal ibunya yang dikenal sebagai “kota minyak.”
Berbeda dengan Jakarta, Dumai menawarkan kehidupan yang jauh lebih tenang. Ritme kehidupan di sana terasa lebih lambat, seperti memberi ruang bagi seseorang untuk bernapas lebih dalam dan merenung lebih jauh.
Namun bagi Agnes, Dumai bukan sekadar tempat pelarian yang indah. Kota itu juga menyimpan berbagai luka dan keraguan dari orang-orang terdekat. Justru di tengah pengalaman tersebut, ia menemukan sesuatu yang lebih penting: kejujuran tentang hidup.
Di sanalah Agnes menyadari bahwa luka dan tantangan adalah bagian dari tenunan kehidupan. Hal-hal itu bukan sesuatu yang harus dihindari, melainkan sesuatu yang membentuk siapa dirinya hari ini. Dari pengalaman itulah ia memahami bahwa ia tidak perlu memilih antara dua hal yang berbeda dalam hidupnya.
“Ternyata saya tidak perlu memilih antara yang memberi saya sayap untuk terbang dan akar untuk tetap berdiri tegak. Keduanya bisa hidup berdampingan dalam diri saya.”
Dalam perjalanan kariernya, Agnes sempat bekerja di salah satu usaha milik orang tuanya di bidang general construction. Pengalaman tersebut memberinya banyak pelajaran tentang dunia kerja dan tanggung jawab.
Namun jauh di dalam dirinya, ia menyadari bahwa ia memiliki keinginan kuat untuk berjalan secara mandiri dan membangun sesuatu dengan tangannya sendiri.
Perjalanan itu tentu tidak selalu mulus. Ia pernah mengalami kegagalan, namun bagi Agnes, kegagalan bukanlah akhir dari segalanya.
“Setiap kegagalan adalah bentuk dari proses bertumbuh. Dari sana saya belajar banyak hal yang membentuk diri saya hari ini.”
Saat ini Agnes tengah fokus mengembangkan bisnis barunya, sebuah salon kecantikan yang baru saja ia launching.
Menariknya, bisnis tersebut lahir dari sesuatu yang sangat personal baginya: hobi dan kecintaannya pada seni.
Bagi Agnes, seni adalah cara untuk mengekspresikan diri dan memberi warna pada kehidupan. Ia melihat kehidupan seperti sebuah kanvas yang bisa dilukis dengan kreativitas, keberanian, dan kejujuran terhadap diri sendiri.
“Seni bagi saya adalah kanvas kehidupan. Jika sebelumnya terasa kurang berwarna, sekarang saya memilih mewarnai setiap detiknya dengan kreativitas dan ekspresi diri yang otentik.”
Kesibukannya dalam mengelola bisnis tentu menyita banyak waktu. Namun Agnes tetap berusaha menjaga keseimbangan hidup. Di sela-sela aktivitasnya, ia menyempatkan diri untuk berolahraga, salah satunya dengan bermain golf, yang menjadi salah satu hobi favoritnya.
Selain itu, ia juga sangat menyukai travelling. Baginya, perjalanan adalah cara untuk menemukan perspektif baru tentang dunia sekaligus tentang dirinya sendiri. Ketika merasa lelah atau burnout, Agnes tidak ragu untuk melakukan perjalanan seorang diri.
Dalam perjalanan-perjalanan itu, ia menikmati kebebasan untuk melihat dunia dari sudut pandangnya sendiri menjelajahi tempat baru, merasakan pengalaman baru, dan tentu saja menikmati berbagai makanan favoritnya.
Di tengah perjalanan hidupnya, Agnes juga memiliki prinsip yang sangat ia pegang: menjaga privasi. Ia menyadari bahwa tidak semua orang berhak mengetahui setiap detail kehidupannya.
Bagi Agnes, asumsi orang lain adalah sesuatu yang tidak selalu perlu dijawab.
“Jika orang berasumsi yang tidak benar tentang saya, biarkan saja. Tidak semua orang pantas mendapatkan penjelasan dari saya.”
Sikap tersebut membuatnya lebih fokus pada perjalanan pribadinya, tanpa terlalu terpengaruh oleh penilaian orang lain.
Pada akhirnya, perjalanan Agnes Win adalah tentang menemukan keseimbangan antara mimpi dan kenyataan, antara keberanian untuk terbang dan keteguhan untuk tetap berpijak.
Ia percaya bahwa setiap orang memiliki jalannya sendiri. Terkadang jalan itu dipenuhi keraguan, kegagalan, bahkan luka. Namun justru dari situlah seseorang belajar tentang dirinya sendiri.
Pesan yang selalu ia pegang sederhana, tetapi penuh makna:
“Jika orang meragukan seberapa jauh Anda bisa melangkah, lakukan sejauh mana Anda tidak bisa mendengar mereka lagi.”
Source image: Agnes Win
