Nosel.id Jakarta- Saya lahir dan besar di Tangerang. Alhamdulillah, sejak kecil saya tumbuh dalam keluarga yang utuh.
Namun, karena Papa dan Mama sama-sama memiliki kesibukan yang cukup padat, sebagian besar waktu saya sejak kecil lebih banyak ditemani oleh Mbak dan sopir.
Bisa dibilang, waktu yang mungkin tidak selalu bisa diberikan secara langsung oleh orang tua banyak tergantikan oleh fasilitas dan perhatian dalam bentuk yang berbeda.
Pengalaman itu menjadi bagian dari cerita masa kecil saya dan sedikit banyak membentuk pribadi saya hari ini.
Saat ini saya bekerja sebagai Business Development di sebuah perusahaan oil and gas, sekaligus menjalankan usaha.
Pekerjaan ini membawa saya bertemu dengan banyak orang dengan karakter yang berbeda-beda. Justru di situlah salah satu hal yang paling saya sukai.
Saya belajar bagaimana berbicara dengan orang yang bahkan sebelumnya sama sekali tidak saya kenal. Kami tidak pernah tahu seperti apa karakter, sikap, atau cara berpikir seseorang ketika pertama kali bertemu.
Tetapi, dalam pekerjaan ini, saya dituntut untuk bisa membuat orang lain merasa nyaman ketika berkomunikasi dengan saya.
Bagi saya, itu merupakan tantangan yang menarik.

Apalagi ketika sedang menghadapi tender. Ada rasa tegang ketika harus berusaha memenangkan sebuah project, tetapi di sisi lain justru ada keseruan tersendiri. Saya menikmati prosesnya karena dari sana saya terus belajar.
Dulu saya termasuk orang yang cukup malu untuk berbicara di depan banyak orang. Namun pekerjaan ini perlahan memaksa saya keluar dari zona nyaman.
Saya belajar berani menyampaikan pendapat, berbicara di depan umum, dan berkomunikasi dengan lebih percaya diri. Sampai akhirnya, sisi “malu-malu” dalam diri saya perlahan hilang.
Tentu setiap pekerjaan memiliki sisi kurang menyenangkannya. Bagi saya, salah satu tantangan terbesar adalah waktu yang terkadang cukup tersita oleh pekerjaan, terutama waktu bersama anak. Ada pula beberapa hal dalam pekerjaan yang memang tidak bisa saya ceritakan. Hehe.
Tetapi saya percaya, setiap fase kehidupan selalu membawa pelajaran. Tidak ada perjalanan yang benar-benar sempurna, dan tidak semua hal harus selalu berjalan sesuai dengan apa yang kita rencanakan.
Salah satu pelajaran terbesar dalam hidup saya justru datang dari pengalaman pribadi.
Saya pernah memaksakan sesuatu hanya karena saya berpikir, “Ini yang aku mau.”
Ternyata saya salah.
Dalam prosesnya, saya kehilangan cinta, kepercayaan, uang, orang-orang yang saya sayangi, bahkan sebagian dari diri saya sendiri.
Di usia 23 tahun, saya menjadi seorang single mom. Saya harus membesarkan seorang anak sekaligus belajar menyembuhkan diri sendiri.
Tidak mudah, tetapi dari perjalanan itu saya mulai memahami bahwa terkadang kita harus berani menerima kenyataan bahwa tidak semua hal yang kita inginkan memang ditakdirkan untuk menjadi milik kita.
Saya belajar bahwa melepaskan bukan berarti kalah. Ada kalanya melepaskan justru menjadi bentuk keberanian untuk menyelamatkan diri sendiri.
Karena itu, salah satu harapan saya ke depan adalah semoga semakin banyak orang yang mau berpikiran terbuka dan memilih menggunakan waktunya untuk meng-upgrade diri daripada terlalu sibuk mengurusi kehidupan orang lain.
Waktu sangat berharga. Satu menit yang kita habiskan untuk mengurusi hidup orang lain adalah satu menit yang mungkin sedang digunakan seseorang di luar sana untuk belajar, berkembang, dan menjadi versi dirinya yang lebih baik.
Saya sendiri masih terus belajar. Belajar menjadi pribadi yang lebih baik, menjadi ibu yang lebih baik, membangun karier, menjalankan usaha, dan yang tidak kalah penting, belajar berdamai dengan diri sendiri.
Untuk siapa pun yang sedang berada dalam sebuah hubungan atau situasi yang terasa tidak lagi sehat, saya ingin menyampaikan satu hal:
Jangan pernah memaksakan seseorang atau kehidupan yang sebenarnya bukan untukmu.
Karena terkadang, melepaskan memang terasa sangat menyakitkan. Tetapi bertahan di tempat di mana perlahan-lahan kamu kehilangan dirimu sendiri bisa jauh lebih menyakitkan.
Tidak semua yang kita perjuangkan harus dipertahankan. Tidak semua yang kita cintai harus kita miliki.

Sometimes, letting go is painful. But staying where you’re slowly losing yourself is worse.
Dan pada akhirnya, mungkin salah satu bentuk keberanian terbesar dalam hidup adalah berani memilih diri sendiri.
Kemudian perlahan membangun kembali hidup yang sempat berantakan menjadi sesuatu yang lebih kuat dan lebih berarti.
Source image: Atikah






