Nosel.id Jakarta- Lahir dan besar di Jakarta, Stephanie Calista sudah terbiasa dengan kehidupan kota yang dinamis dan penuh aktivitas sejak kecil.
Hari-harinya diisi dengan berbagai kegiatan, mulai dari les balet, modeling, hingga piano.
Dari semua aktivitas tersebut, balet menjadi salah satu hal yang paling ia sukai. Bahkan, ia bisa berlatih dua hingga tiga kali dalam seminggu.
Di tengah kesibukan itu, keluarga tetap menjadi tempat Stephanie menemukan energi dan kenyamanan. Baginya, quality time bersama orang-orang terdekat tidak harus selalu dalam bentuk sesuatu yang mewah.
Menonton bersama, makan, mengobrol di rumah atau sekadar duduk santai di kafe sudah cukup untuk membuatnya kembali recharge.
Menariknya, perjalanan Stephanie sebagai content creator bukanlah sesuatu yang sejak awal ia rencanakan.
Semuanya justru berawal dari sebuah kesempatan kecil. Pada 2017, ia mendapatkan kesempatan mengikuti casting iklan.
Dari sana, Stephanie mulai mengenal teman-teman yang lebih dulu aktif di media sosial.
Ia kemudian sering diajak melakukan pemotretan bersama street photographer dan mulai membagikan hasilnya melalui Instagram.

Tak disangka, respons yang diterima cukup positif. Dari sekadar iseng, Stephanie akhirnya mulai menikmati proses membuat konten. Perlahan, sejumlah brand pun mulai memperhatikannya dan menawarkan kerja sama.
Bagi Stephanie, menjadi content creator bukan semata-mata tentang mendapatkan sebanyak mungkin brand.
Menurutnya, hal yang jauh lebih penting adalah membangun karakter dan personal brand terlebih dahulu. Ketika seseorang memiliki karakter yang kuat, audiens akan lebih mudah mengenal, memahami, dan mempercayainya.
Ia pun berusaha memilih kerja sama dengan brand yang memang sesuai dengan dirinya. Baginya, rekomendasi yang diberikan harus tetap genuine karena sesuatu yang dibagikan akan terasa lebih natural ketika memang benar-benar disukai.
“Menurut aku, jangan terlalu fokus mengejar brand.
Bangun dulu karakter dan personal brand kita, supaya orang tahu dan membangun trust dari situ,” ungkap Stephanie.
Perjalanan tersebut tentu tidak selalu mudah. Ada kebahagiaan karena bisa bekerja sambil melakukan sesuatu yang disukai, tetapi ada pula tekanan untuk terus kreatif, konsisten, dan mengikuti perubahan tren.
Stephanie menyadari bahwa mencapai sesuatu mungkin terasa lebih mudah dibandingkan mempertahankan dan terus mengembangkannya.
Karena itu, ia memilih untuk terus belajar dan mengeksplorasi banyak hal. Menurutnya, rasa ingin tahu atau curiosity menjadi salah satu kunci agar tetap kreatif.
Terlebih, dunia media sosial bergerak begitu cepat sehingga seorang content creator harus mampu beradaptasi.
Pada awal perjalanan, Stephanie mencoba berbagai kategori konten, mulai dari beauty, fashion, travel hingga foodie. Dari proses tersebut, ia kemudian melihat respons audiens dan menganalisis kategori mana yang paling mendapatkan perhatian.
Setelah menemukan pola, ia mulai lebih konsisten mengembangkan konten berdasarkan insight tersebut.
Namun, Stephanie tidak ingin dirinya hanya dikenal sebagai beauty atau lifestyle creator. Ia ingin memiliki identitas yang lebih luas: seseorang dengan good taste yang rekomendasinya bisa dipercaya.
Baginya, ketika seseorang merekomendasikan sesuatu, bukan hanya produknya yang penting, tetapi juga alasan di balik rekomendasi tersebut. Ketika audiens tahu bahwa sesuatu memang benar-benar disukai dan dipilih dengan pertimbangan, kepercayaan akan tumbuh secara alami.
Hal itu juga terlihat dari konten outfit of the day yang ia bagikan. Konten-konten tersebut kerap mendapatkan engagement yang baik, bahkan tidak jarang membuat pengikutnya penasaran dan meminta Stephanie membagikan detail outfit yang dikenakannya.
Di balik perjalanan kariernya, Stephanie tetap memiliki harapan sederhana. Ia selalu mendoakan agar keluarga dan orang-orang tersayangnya diberikan kesehatan. Ia juga berharap kebaikan selalu kembali kepada orang-orang yang telah berbuat baik kepadanya.
Untuk karier, Stephanie berharap dapat terus berkembang, melakukan hal-hal yang ia sukai, dan memiliki sesuatu yang bisa dibanggakan dalam jangka panjang—tanpa harus merugikan orang lain.
Namun, di atas semua pencapaian tersebut, ada satu hal yang menurutnya jauh lebih penting: tetap bisa menikmati hidup dan tidak lupa bersyukur.
Stephanie percaya bahwa hidup tidak seharusnya hanya diukur dari seberapa jauh seseorang terlihat berhasil dibandingkan orang lain. Setiap orang memiliki perjalanan dan waktunya masing-masing. Karena itu, terlalu sibuk membandingkan diri justru bisa membuat seseorang lupa melihat sejauh apa dirinya telah berkembang.
“Kadang kita terlalu fokus mau berkembang, jadi nggak sadar kita sebenarnya sudah jalan jauh banget dari garis start.”
Baginya, pencapaian kecil pun layak dirayakan. Mencoba sesuatu yang baru, berani menjadi diri sendiri, menikmati proses, terus berdoa, dan tetap berusaha adalah bagian penting dari perjalanan.
Sebab, kehidupan bukan hanya tentang mencapai tujuan akhir, tetapi juga tentang bagaimana seseorang menikmati setiap langkah menuju ke sana.
“Kalau dari hal kecil kita nggak bersyukur, gimana mau dikasih hal besar?”

Pesan Stephanie sederhana, tetapi relevan untuk siapa pun yang sedang berjuang dengan jalannya masing-masing:
Jangan terburu-buru merasa tertinggal hanya karena melihat orang lain sudah lebih dulu sampai.
“Take your time. You’re not behind.”
Karena setiap orang memiliki waktunya sendiri. Yang terpenting bukan siapa yang paling cepat, melainkan siapa yang mampu terus berjalan, bertumbuh, menikmati proses, dan tetap bersyukur atas perjalanan yang sedang dijalani.
Source image: Stephanie Calista






