Nosel.id Jakarta- Shella Adelina berasal dari Palangkaraya, Kalimantan Tengah, sebuah kota yang menjadi saksi awal pembentukan karakter dan nilai hidupnya.
Ia tumbuh dalam keluarga yang konservatif, menjunjung tinggi sopan santun, disiplin, dan kemandirian.
Meski orang tuanya dikenal cukup tegas dalam mendidik, rumah Shella selalu dipenuhi kasih sayang.
Pendidikan keluarga yang kuat inilah yang kini menjadi fondasi dalam cara Shella membesarkan anak-anaknya, meneladani kebaikan sang ibu yang begitu ia kagumi.
Perjalanan hidup membawanya merantau seorang diri ke Jakarta sejak masa kuliah.
Di kota inilah Shella membangun karier, menata kehidupan, hingga akhirnya berkeluarga.
Selama sembilan tahun, ia berkiprah di dunia Business Development, mulai dari sektor perbankan, agensi multinasional, hingga startup.
Karier tersebut menempa Shella menjadi pribadi yang disiplin, ambisius, dan keras terhadap diri sendiri, seiring tuntutan target dan tanggung jawab profesional yang besar.
Namun tiga tahun lalu, Shella mengambil keputusan besar yang mengubah arah hidupnya: meninggalkan dunia korporasi dan memilih fokus sebagai ibu rumah tangga penuh waktu.
Keputusan yang tidak mudah, tetapi terbukti menjadi pilihan terbaik bagi kesehatan mental, tumbuh kembang anak, dan keharmonisan rumah tangga.
Terlebih, tiga bulan lalu Shella baru saja melahirkan anak keduanya, sebuah fase baru yang penuh tantangan sekaligus kebahagiaan.

Kini, keseharian Shella diisi dengan peran sebagai ibu dua anak, ditemani hobi baru yang memberi energi positif: bermain padel.
Berawal dari kegemarannya bermain tenis, padel menjadi alternatif yang tak kalah seru, memberi ruang untuk berolahraga, bersosialisasi, sekaligus menjaga kebugaran pasca melahirkan.
Dukungan penuh dari suami membuat hobi ini justru mempererat hubungan mereka.
Bermain padel bersama, membawa anak, dan menjadikannya aktivitas keluarga menjadi momen sederhana yang sarat makna.
Tentu, semua itu tetap diiringi dengan kemampuan mengatur waktu agar kebutuhan anak dan rumah tangga tetap terjaga.
Memasuki usia 33 tahun, fokus hidup Shella semakin jernih. Ia merasa berada di fase paling matang dalam mengambil sikap dan keputusan.
Ambisi karier tak lagi sebesar dulu, digantikan oleh kesadaran bahwa hidup yang seimbang adalah kunci kebahagiaan.
“Being less is the best,” prinsip yang kini ia pegang erat.
Harapannya sederhana namun dalam: keluarga yang sehat dan harmonis, anak-anak yang tumbuh bahagia, waktu berkualitas yang penuh cerita, serta menjadi ibu yang kelak dibanggakan oleh anak-anaknya.
Ia juga berharap suaminya senantiasa dilancarkan rezekinya, sebagai sosok pekerja keras yang selalu mengutamakan keluarga.

Sebagai penutup, Shella membagikan pesan yang ia yakini sepenuh hati, bahkan terukir sebagai tato di tubuhnya: Nanakorobi Yaoki, jatuh tujuh kali, bangkit delapan kali.
Baginya, setiap masa sulit sejatinya adalah arah menuju versi diri yang lebih baik. Selalu ada pelajaran di balik kesulitan, asalkan kita tidak terlalu lama terpuruk.
“The struggle you are facing is exactly what you need to become the best version of yourself.”
Source image: shella








