Nosel.id Jakarta- Gabriella Manullang lahir di Kampar, Riau. Sejak kecil, hidupnya akrab dengan kata “berpindah” karena mengikuti tugas sang ayah yang kerap berpindah kota.
Pola hidup ini membuat Gabriella terbiasa beradaptasi, bertemu orang-orang baru, dan tanpa disadari belajar menjadi dewasa lebih cepat dari usianya.
Salah satu fase hidup yang paling membekas adalah saat ia tinggal di kampung kakeknya di Sumatra Utara.
Terletak di kaki gunung, lingkungan yang asri itu menjadi ruang belajar kehidupan yang nyata.
Sejak usia 9 tahun, Gabriella sudah terbiasa memasak dan mengerjakan pekerjaan rumah.
Di usia 11 tahun, ia bahkan pernah bekerja mengumpulkan batu sungai untuk dijual.
Dari pekerjaan sederhana itu, ia memperoleh Rp120.000 pada tahun 2011, uang yang ia gunakan untuk membeli perlengkapan sekolah, meski orang tuanya sebenarnya mampu membelikannya.
Bukan soal nominal, tetapi tentang harga diri, tanggung jawab, dan kebanggaan atas usaha sendiri.

Di kampung kakek, hari-harinya diisi dengan petualangan kecil yang penuh makna: mandi di sungai, masuk hutan mencari kayu, hingga membantu di sawah.
Ia tumbuh dalam keluarga yang demokratis setiap suara didengar, setiap pendapat dihargai. Tidak ada hierarki kebenaran semata karena usia.
Pola asuh inilah yang membentuk Gabriella menjadi pribadi yang mandiri, kritis, dan berani menyuarakan pikiran.
Kini, Gabriella bekerja di sebuah perusahaan F&B di Batam, sembari menempuh pendidikan kuliah jurusan Perpajakan.
Memulai kuliah di usia 24 tahun mungkin bagi sebagian orang terasa terlambat, namun tidak bagi Gabriella.
Ia percaya bahwa tidak ada kata terlambat untuk belajar dan berproses.
Di luar pekerjaan dan kampus, ia aktif di media sosial, membagikan keseharian dan gaya hidup sehat.
Lari, badminton, berenang, dan aktivitas positif lainnya menjadi bagian dari upayanya menjaga keseimbangan hidup.
Soal suka dan duka, Gabriella memilih sudut pandang yang tenang. Kesibukan yang terlihat melelahkan dari luar tidak ia jadikan beban.
Baginya, selama sesuatu dijalani dengan pikiran yang jernih, hati yang santai, dan manajemen waktu yang baik, tekanan bisa diubah menjadi ritme yang menyehatkan.
Ke depan, Gabriella memanjatkan harapan agar senantiasa diberi kesehatan oleh Tuhan Yesus, diberkati dalam setiap langkah, memiliki karier yang semakin baik, serta mampu membahagiakan keluarga dan memberi dampak positif bagi lingkungan sekitarnya.
Saat ini, ia juga tengah menapaki proses personal yang istimewa: menyusun sebuah buku berjudul A Journey to Self-Discovery: Seni Bertumbuh Lewat Luka, dengan target rampung tahun ini.
Sebuah karya yang lahir dari refleksi, luka, dan keberanian untuk bertumbuh.

Pesan Gabriella sederhana namun menguatkan:
Tidak ada kata terlambat untuk menuju kesuksesan. Gali potensi diri, terus berusaha, dan percayalah bahwa keberhasilan sering kali hanya sedekat doa dan kerja keras. Ora et Labora.
Kisah Gabriella Manullang adalah potret ketekunan, kemandirian, dan keyakinan.
Bahwa setiap perjalanan seberat apa pun selalu menyimpan pelajaran yang menuntun kita pada versi diri yang lebih kuat dan bermakna.
Source image: Gabriella








