Nosel.id Jakarta- Dian Ardianti adalah perempuan yang tumbuh bersama panasnya Surabaya, kota yang keras, jujur, namun hangat dalam caranya sendiri.
Lahir dan besar di Kota Pahlawan, ia mengenal Surabaya bukan hanya sebagai kota yang identik dengan cuaca terik, tetapi juga sebagai surga kuliner dengan harga yang ramah dan rasa yang selalu membekas.
Di balik hiruk pikuknya, Surabaya menyimpan wajah lain yang ia cintai: kawasan heritage yang kini dikelola dengan sangat baik.
Jalan Tunjungan, misalnya, bertransformasi menjadi ruang hidup baru, deretan bangunan bersejarah yang berdampingan harmonis dengan coffee shop yang estetik, nyaman, dan penuh cerita.
Karier profesional Dian dimulai di dunia jurnalistik televisi.
Ia pernah menjadi News Anchor di SCTV dan Kompas TV, sebuah peran yang menuntut ketepatan, kecepatan, dan kepercayaan publik.
Namun perjalanan hidup membawanya pada sebuah keputusan besar: melakukan career switch.

Dari layar kaca, Dian melangkah ke balik layar sebagai bagian dari tim media komunikasi di salah satu perusahaan oil & gas di Indonesia.
Kini, dunia komunikasi korporasi menjadi ruang aktualisasinya.
Ia menangani berbagai aspek komunikasi perusahaan, termasuk pengelolaan media sosial, sebuah peran strategis yang menuntut sensitivitas pesan, pemahaman audiens, dan integritas dalam setiap narasi yang disampaikan.
Latar belakang jurnalistik memberinya fondasi kuat: berpikir kritis, menyampaikan pesan dengan jernih, dan menjaga kredibilitas.
Bekerja di industri migas membuka cakrawala baru baginya.
Dian banyak bertemu dengan orang-orang dari latar belakang yang beragam, baik engineer maupun non-engineer.
Ia juga sering melakukan perjalanan dinas, berpindah kota dan wilayah, yang secara tidak langsung membentuknya menjadi pribadi yang adaptif dan kaya jejaring.
Dari setiap perjalanan, ia belajar tentang networking, memahami industri oil & gas lebih dalam, sekaligus terus mengasah kemampuan memilah prioritas.
Namun di balik dinamika dan keseruan itu, ada sisi yang tak selalu mudah. Jarak kerap menjadi tantangan terberat.
Dian harus sering berada jauh dari suami dan ketiga anaknya, peran yang tak pernah ia anggap ringan.
Di sinilah ia belajar tentang makna work-life balance yang sesungguhnya: bukan soal membagi waktu secara sempurna, tetapi tentang hadir sepenuh hati di setiap peran yang dijalani.
Dalam hidup, Dian menggantungkan harapannya pada nilai-nilai spiritual.
Ia berdoa agar setiap langkah pekerjaannya selalu dituntun dengan integritas, keluarganya senantiasa dalam perlindungan Allah, dan setiap kesempatan yang datang dapat menjadi jalan untuk berkontribusi positif bagi orang lain.

Baginya, pencapaian sejati bukan hanya tentang karier, tetapi juga tentang tetap membumi dalam setiap proses.
Prinsip hidup yang ia pegang sederhana, namun bermakna dalam: “Choosing to be kind and respectful, it costs nothing, yet means everything.”
Di tengah dunia yang bergerak cepat dan sering kali keras.
Dian Ardianti memilih untuk tetap berakar pada kebaikan, rasa hormat, dan nilai kemanusiaan karena dari sanalah integritas dan ketenangan hidup bertumbuh.
Source image: dian








