Nosel.id Jakarta- Sarah Yunita berasal dari Kota Medan, kota yang keras namun penuh warna kehidupan.
Masa kecilnya tidak sepenuhnya ia habiskan bersama orang tua. Di usia 5 hingga 12 tahun, Sarah tinggal bersama kakak dari ayahnya.
Baru menginjak usia 13 tahun hingga sekarang, ia kembali hidup bersama orang tuanya. Didikan yang ia terima terbilang keras, namun bukan tanpa alasan.
Bagi Sarah, ketegasan orang tua adalah bentuk kasih sayang, cara mereka melindungi anak-anaknya agar dunia luar tidak lebih dulu melukai.
Sejak usia remaja, Sarah sudah terbiasa dengan tanggung jawab. Saat teman sebayanya masih fokus menikmati masa sekolah, ia mulai bekerja membantu keluarga.
Dari bangku SMP hingga menamatkan pendidikan di SMK, Sarah membiayai sekolahnya sendiri.
Pengalaman itu membentuk mentalnya: mandiri, tangguh, dan tidak mudah mengeluh. Hidup mengajarkannya bahwa tidak semua hal datang dengan mudah, tetapi setiap usaha selalu membawa nilai.
Saat ini, Sarah bekerja di sebuah perusahaan retail fashion di Mall DeliPark Medan. Dunia fashion menjadi ruang ekspresinya.

Ia gemar bermain dengan gaya dan OOTD, serta nyaman berada di depan kamera.
Bagi Sarah, fashion bukan sekadar penampilan, melainkan cara mengekspresikan diri dan membangun kepercayaan diri, bahwa siapa pun bisa tampil kuat dengan caranya sendiri.
Berbicara tentang suka duka, Sarah menjalaninya dengan penuh kesadaran.
Ia sudah terbiasa bekerja sejak dini, sehingga lelah dan tantangan bukanlah hal asing. Justru dari proses itulah ia belajar arti ketekunan dan keteguhan hati.
Hidup, menurutnya, bukan tentang seberapa ringan perjalanan, tetapi seberapa kuat kita bertahan dan bertumbuh.
Harapan dan doa Sarah terdengar sederhana, namun sarat makna. Ia percaya bahwa hidup sangatlah singkat dan tak ada yang tahu kapan sebuah pertemuan menjadi yang terakhir.
Karena itu, ia memilih untuk menghargai setiap momen, setiap perjumpaan, dan berusaha membahagiakan orang-orang terdekat selagi masih ada waktu
Sebagai pesan untuk pembaca di seluruh Indonesia, Sarah meninggalkan kalimat yang mencerminkan perjalanan hidupnya:

“Yang terbaik itu dibentuk, bukan dicari.
Karena jika terus mencari, tidak akan ada habisnya.”
Sebuah pengingat bahwa versi terbaik dari diri kita lahir dari proses, bukan dari pencarian tanpa henti.
Source image: sarah








