Nosel.id Jakarta- Febby Yolanda lahir dan tumbuh di Padang sebagai anak pertama dari dua bersaudara.
Ia dibesarkan dalam keluarga dengan kedua orang tua yang bekerja kantoran.
Kehidupan masa kecilnya cukup tercukupi secara materi, namun ada satu hal yang kerap ia rasakan kurang: waktu kebersamaan.
Hari-hari ketika keluarga benar-benar hadir lengkap biasanya hanya terjadi di akhir pekan, Sabtu dan Minggu.
Meski demikian, orang tua Febby selalu menjadi tempat pulang yang aman. Dukungan mereka tak pernah setengah-setengah.
Dalam setiap keputusan hidup, termasuk saat Febby harus melewati fase-fase sulit, mereka selalu berdiri di garda terdepan.
Pola pikir yang berbeda tidak pernah menjadi penghalang, selama pilihan itu baik dan membahagiakan anaknya.
Bahkan ketika Febby memilih pasangan hidup yang tidak bekerja kantoran, restu tetap mereka berikan dengan penuh kepercayaan.
Sejak jauh sebelum menikah, Febby sudah mantap memilih jalan hidup sebagai ibu rumah tangga.
Bagi Febby, ini bukan keputusan karena keterbatasan, melainkan pilihan sadar yang penuh makna.

Ia ingin membersamai tumbuh kembang anak-anaknya secara utuh dari penanaman boundaries, value, hingga seluruh aspek perkembangan mereka.
Baginya, rumah adalah sekolah pertama, dan ia bersama suaminya adalah pendidik utama.
Dalam perannya sebagai pasangan, Febby dan suami membangun kerja sama yang setara.
Mereka saling mendukung hobi dan aktivitas masing-masing, berbagi peran dalam pengasuhan anak, dan tetap menyisihkan waktu untuk menjaga hubungan sebagai suami istri, termasuk kencan kecil yang sederhana namun bermakna.
Di luar peran utamanya sebagai ibu, Febby tetap aktif secara produktif.
Bisnis ia jalani sebagai sampingan, semata untuk pengembangan diri dan menyalurkan kegemarannya berdagang.
Sejak masa kuliah, Febby memang akrab dengan dunia usaha mulai dari jualan jilbab, membuka kafe kecil pascawisuda, hingga berjualan taichan, baju dewasa, dan makanan pinggir jalan bersama suami di bulan Ramadan.
Kini, ia menjalankan online store baju anak yang berawal dari melihat peluang menjelang Lebaran.
Sementara usaha custom interior dijalankan oleh sang suami, Febby turut berkontribusi di bagian promosi.
Namun fokus utamanya tetap satu: anak-anak.
Ia percaya, bisnis bisa menunggu. Ada fase kehidupan yang tak bisa diulang, dan masa golden age anak-anak adalah prioritasnya saat ini.
Di sisi lain, Febby juga aktif dalam kegiatan sosial, bukan karena ingin dikenal, melainkan karena dorongan nurani.
Ia percaya bahwa manusia seharusnya tidak hanya memiliki simpati, tetapi juga empati.
Memberi makan yang lapar, memberi minum yang haus, atau sekadar menghadirkan senyum kecil bagi mereka yang sedang bersedih, memberinya kebahagiaan yang tak tergantikan.
Ia merasa hidupnya berarti saat bisa bermanfaat bagi orang lain.
Namun kegiatan sosial juga membawa luka batin tersendiri.
Mendengar keluh kesah para pengungsi, menyaksikan rumah-rumah yang rata dengan tanah, sering kali membuat Febby ikut larut dalam kesedihan mereka. Energi duka itu tak jarang terbawa hingga berhari-hari.
Meski berat, ia memilih tetap hadir, karena ia percaya, memudahkan urusan orang lain adalah jalan agar Allah kelak memudahkan urusannya.
Kebaikan yang ditanam hari ini, ia yakini akan tumbuh dan berbuah di masa depan, bahkan mungkin melalui anak-anaknya kelak.
Harapan Febby sederhana namun dalam. Ia ingin anak-anaknya tumbuh menjadi manusia yang penuh empati dan rasa syukur.
Ia berharap selalu diberi kesehatan dan rezeki yang barokah agar bisa terus bermanfaat bagi keluarga dan sesama.
Ia juga memanjatkan doa agar Sumatera tanah kelahirannya, segera pulih dan bangkit kembali.
Sebagai penutup, Febby menitipkan pesan yang lahir dari perjalanan hidupnya:

“Bersyukurlah dari hal-hal kecil yang kita temui setiap hari. Kadang itu adalah bentuk balasan Tuhan atas kebaikan yang pernah kita perbuat.
Jangan berhenti menjadi orang baik, karena kebaikan pasti akan kembali ke tempat ia bermula.
Dan untuk para ibu rumah tangga, percayalah, itu keren banget.
Balasannya adalah surga dari Allah selama kita bersyukur dan ikhlas menjalaninya. InsyaAllah, itu menjadi ladang pahala yang luas.
Sebuah pengingat bahwa peran paling sunyi sering kali menyimpan makna paling besar dan dari rumah yang penuh cinta, lahir generasi yang menguatkan dunia.
Source image: febby








