Nosel.id Jakarta- Dewi A Bastia berasal dari Banyuwangi. Meski begitu, sejak lahir ia sudah menetap di Bali bersama kedua orang tuanya.
Banyuwangi tetap menjadi rumah dalam ingatan, tempat yang biasanya ia kunjungi kembali saat momen Idul Fitri, ketika rindu keluarga dan suasana kampung halaman tak lagi bisa ditahan.
Ada ikatan emosional yang tak pernah putus, meski hidup telah lama berpijak di pulau yang berbeda.
Kini Dewi tinggal di kawasan Kuta, Bali. Lingkungan yang dinamis, penuh energi, sekaligus memberi ruang untuk bernapas.
Setelah lelah bekerja atau menjalani aktivitas harian, pantai menjadi tempat healing paling sederhana baginya.
Duduk menatap laut, mendengar debur ombak, dan membiarkan pikiran tenang cara Dewi merawat dirinya tanpa banyak keributan.

Saat ini, Dewi bekerja di salah satu perusahaan Australia yang beroperasi di Bali. Sistem kerja office hour dengan akhir pekan libur memberinya keseimbangan hidup yang sehat.
Waktu luang dimanfaatkan untuk hangout, coffee time bersama teman, atau sekadar menikmati hari tanpa terburu-buru.
Baginya, keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi adalah bentuk syukur yang nyata.
Tentang dunia kerja, Dewi percaya bahwa suka dan duka pasti ada di mana pun kita berada semuanya kembali pada cara kita menyikapi.
Salah satu hal yang paling ia syukuri adalah budaya kerja bersama rekan non-lokal yang profesional, bijak, dan humanis.
Di tempatnya bekerja, staf diperlakukan sebagai rekan, bukan bawahan.
Lingkungan seperti inilah yang membuat Dewi merasa dihargai, didengar, dan tumbuh dengan nyaman.
Berbicara soal kecantikan, Dewi memiliki pandangan yang sangat sederhana.
Menurutnya, cantik bukan hanya soal penampilan, tetapi bagaimana seseorang membawa dirinya. Ramah dan murah senyum adalah kunci utama.
Pikiran yang bahagia, hati yang ringan, dan kemampuan menikmati hidup selagi sehat adalah bentuk perawatan terbaik.
Soal fisik, Dewi cukup konsisten dengan basic skincare dan kebiasaan sederhana yang sering terlupakan: rajin minum air putih.
Harapan Dewi di tahun baru pun tidak berlebihan.
Ia hanya berharap, semoga kita semua benar-benar berada di titik yang dulu sering kita sebut dalam doa-doa tahun sebelumnya, lebih tenang, lebih bersyukur, dan lebih bahagia.

Pesan hidup yang ia pegang juga terasa sederhana, namun bermakna dalam:
tetaplah menjadi pribadi yang baik kepada siapa pun dan di mana pun.
Karena kebaikan, pada waktunya, akan kembali sering kali di saat yang paling tidak kita duga.
Dan di atas segalanya, jangan pernah melupakan tiga kata ajaib yang sering terlihat sepele, tetapi sangat berarti: Tolong, Maaf, dan Terima Kasih.
Source image: dewi








