Melda Aprillia, Jadikan ‘Kurangmu’ Sebagai Bahan Bakar untuk Mencapai Kesuksesan.

Nosel.id Jakarta-Melda Aprillia lahir dan besar di Bekasi, namun sebagian hatinya tertinggal di Karawang, kampung halaman sang ibu.

Karawang baginya bukan sekadar tempat pulang, melainkan ruang yang mengajarkan arti kebersamaan.

Di sana, suasana keluarga terasa lebih hangat, obrolan lebih panjang, dan waktu seakan berjalan lebih pelan.

Meski harus berdamai dengan keterbatasan, jarak pasar yang jauh, jaringan yang sering tersendat, hingga ketiadaan layanan pesan-antar makanan.

Melda justru menemukan kebahagiaan yang sederhana: lebih banyak berbincang dengan keluarga, lebih dekat dengan pantai, dan lebih hadir sebagai diri sendiri.

Sejak muda, Melda sudah akrab dengan dunia digital dan kreativitas.

Perjalanannya di dunia konten dimulai dari TikTok, hingga suatu hari akun yang telah ia bangun harus terhenti karena terkena banned.

Alih-alih menyerah, ia justru melangkah ke jalur lain. Saat masih SMK, ia mulai menerima endorsement, sebuah langkah yang tidak selalu dipahami lingkungan sekitarnya.

Hujatan dan bullying sempat ia terima, bahkan ia dicap “sok artis” oleh teman sekolahnya sendiri.

Namun Melda memilih fokus pada apa yang ia yakini sebagai passion, bukan pada suara-suara yang meremehkan.

Setelah lulus SMK keperawatan yang kemudian ia tinggalkan jalurnya, Melda mengambil keputusan besar: gap year selama dua tahun.

Ia bekerja di berbagai bidang F&B, sambil tetap menjalani endorsement dan syuting.

Di masa itulah ia belajar arti bertahan, mengelola waktu, dan berdamai dengan proses. Dunia fashion, konten, dan kreatif terasa semakin dekat dengan jati dirinya.

Perjalanan akademiknya pun penuh warna. Melda melanjutkan kuliah di jurusan Manajemen Bisnis, sebuah pilihan yang terasa jauh dari latar SMK-nya, namun justru membuka ruang baru untuk berkembang.

Di kampus, ia aktif mengikuti teater karena kecintaannya pada dunia akting, serta terjun ke dunia esports sebagai brand ambassador.

Peran yang selaras dengan minatnya pada fashion dan media. Meski harus melepas teater karena padatnya aktivitas, Melda tidak berhenti berkontribusi.

Rekomendasi dari teman angkatannya membawanya pada peran baru sebagai Kominfo di futsal fakultas, memanfaatkan kemampuannya dalam editing dan komunikasi visual.

Kini, ia menjalani dua peran sekaligus: brand ambassador esports dan Kominfo futsal, sambil terus bekerja dan membangun usaha jastip yang sedang ia rintis.

Di balik aktivitas yang padat, Melda memahami satu hal penting tentang dirinya: ia membutuhkan waktu sendiri. Me time bukan pelarian, melainkan cara untuk mengisi ulang energi.

Berhadapan dengan banyak orang setiap hari membuatnya belajar mengelola batas, memilih kapan harus ramai dan kapan harus tenang.

Baginya, mencari kesibukan adalah kunci agar pikiran tidak terjebak pada hal-hal yang tidak perlu karena bergerak berarti bertumbuh.

Harapan Melda sederhana namun bermakna. Ia ingin keluarganya tetap utuh, sehat, dan diberi rezeki yang lebih baik.

Ia berharap kariernya terus berkembang, usahanya dilancarkan, ekonominya membaik, dan kesehatan selalu menyertai orang-orang di sekitarnya. Semua itu ia rangkum dalam satu prinsip hidup yang ia pegang teguh:

 “Jangan pernah merasa cukup. Terus merasa kurang bukan karena tidak bersyukur, tapi agar diri kita terus berkembang setiap harinya.

Jadikan ‘kurangmu’ sebagai bahan bakar untuk mencapai kesuksesan.”

Kisah Melda Aprillia adalah potret generasi muda yang tumbuh di tengah keterbatasan, kebisingan digital, dan tuntutan sosial, namun tetap memilih bergerak, belajar, dan berkembang.

Bukan tentang menjadi paling cepat sampai, melainkan tentang tidak berhenti berjalan.

 

 

Source image: Melda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *