Nosel.id Jakarta- Firda Agustiya lahir dan besar di Surade, Kabupaten Sukabumi—sebuah daerah yang jauh dari hiruk-pikuk kota, namun kaya akan ketenangan dan kehangatan kampung.
Mall mungkin tak ada, tapi Surade punya “harta” lain yang tak tergantikan: pantai Ujung Genteng yang indah.
Dari rumah, hanya butuh 30–40 menit untuk mencapai birunya laut, menjadi saksi perjalanan masa kecil Firda yang sederhana namun penuh arti.
Meski Firda sempat tinggal di Kota Sukabumi saat masih sangat kecil.
Sebuah fase yang bahkan tak lagi ia ingat, masa tumbuh besarnya benar-benar terukir di Kabupaten Sukabumi.
Dari TK hingga SMA, lingkungan desa yang ramah, ritme hidup yang tenang, dan keluarga yang selalu menyokong membuatnya tumbuh sebagai perempuan yang kuat, sensitif, dan penuh empati.

Support kedua orang tuanya menjadi fondasi paling besar dalam hidupnya.
Meski kini Firda sudah berkeluarga, kasih sayang mereka tak pernah berkurang sedikit pun.
“Rasa disayang itu masih terasa sampai sekarang,” ujarnya, sebuah bentuk syukur yang selalu ia bawa dalam setiap langkah.
Perjalanan karier Firda dimulai setelah lulus SMA.
Ia merantau ke Bandung dan menempuh pendidikan sebagai Refraksionis Optisi, yang kini berganti nama menjadi Optometris.
Profesi ini bukan sekadar tentang kacamata; seorang optometris adalah tenaga kesehatan mata utama.
Memeriksa, mendiagnosis, memberikan terapi penglihatan, hingga mendeteksi kondisi mata yang berpotensi serius.
Mereka berada di garis depan perawatan visual, memastikan kualitas penglihatan masyarakat tetap terjaga.
Kini Firda bekerja di salah satu rumah sakit swasta di Bandung. Dunia pelayanan kesehatan membentuknya menjadi pribadi yang lebih sabar dan kuat.
Ada banyak suka: kepuasan ketika melihat pasien kembali sehat, rasa bangga ketika bisa memberi dampak positif, dan kesempatan belajar hal-hal baru yang tak pernah didapat dari bangku kuliah.
Setiap interaksi dengan pasien yang berbeda latar belakang juga menjadi pengalaman berharga yang memperluas empatinya.
Namun di balik itu, duka pekerjaan ini pun nyata. Jam kerja panjang, tekanan emosional, stres menghadapi kasus kritis, hingga kurangnya apresiasi di situasi tertentu.
Meski begitu, Firda tetap menjalani semuanya dengan niat membantu dan berbuat baik.
Baginya, selama pekerjaannya bermanfaat dan bisa menjadi jalan kebaikan, ia akan terus bertahan dan memberi yang terbaik.
Harapan Firda sederhana namun dalam: semoga apa yang ia lakukan bisa membawa manfaat bagi banyak orang.

Dan untuk setiap orang yang sedang menjalani proses hidupnya, ia menitipkan pesan yang selalu ia pegang teguh:
“Terkadang hal terbaik yang bisa kamu lakukan adalah tidak terlalu banyak berpikir.
Tidak bertanya-tanya, tidak membayangkan, tidak mengobsesi.
Bernapaslah dan yakinlah bahwa semuanya akan berjalan dengan baik.”
Dari Surade yang tenang hingga Bandung yang penuh dinamika, Firda Agustiya membuktikan bahwa perjalanan besar bisa dimulai dari kampung kecil asal dijalani dengan hati, dedikasi, dan keyakinan.
Source image: firda








