Niken Trikurniawati, Nikmati Prosesnya Jangan Terburu-buru Di Puncak 

Nosel.id Jakarta- Niken Trikurniawati tumbuh di sebuah desa kecil di Kota Pasuruan, Jawa Timur.

Masa kecilnya dipenuhi kebahagiaan sederhana: belum ada handphone, belum kenal internet, dan jika ingin menelepon harus berjalan ke wartel dan memakai koin.

Hari-harinya dipenuhi tawa, bersepeda keliling desa, memanjat pohon, bermain gundu, hingga berlari mengejar anak sapi di sawah. “Seru sekali,” kenangnya.

Kesederhanaan masa kecil itulah yang menjadi fondasi ketangguhan dan kreativitasnya hari ini.

Karier Niken di dunia kecantikan dimulai pada 2008, setelah lima tahun bekerja sebagai sekretaris di perusahaan asing.

Kala itu ia hanya “iseng” mencari kesibukan baru dan memutuskan mengikuti kursus makeup di Puspita Martha, Surabaya.

Tak puas, ia melanjutkan spesialisasi monolid eye di Jakarta, teknik yang saat itu masih langka karena belum banyak sekolah makeup yang membuka kelas khusus.

Pada masa itu istilah Makeup Artist (MUA) belum populer; yang ada hanya jasa salon dan bridal.

Namun justru karena itulah Niken menjadi salah satu generasi awal yang membuka jalan.

Dari mulut ke mulut, namanya mulai dikenal. Ia mendapat klien dari berbagai daerah di Sumatra, Jawa, Kalimantan, hingga Papua, bahkan mancanegara.

Pertemuan pertamanya dengan dunia selebritas dimulai dari proyek pemotretan majalah.

Saat majalah online masih jarang, Niken berkali-kali dipercaya oleh Femina Group, Weddingku, dan berbagai publikasi.

Namun perjalanan itu tidak mudah. Domisilinya masih di Surabaya, sementara pekerjaan banyak di Jakarta.

Ia bolak-balik Surabaya–Jakarta dengan budget terbatas. Pernah ia tidur di bandara, atau menumpang rumah teman demi menghemat biaya.

Bahkan ada kalanya, setelah tiba di Jakarta, jadwalnya tiba-tiba dibatalkan oleh artis.

Tapi Niken tidak menyerah. “Kerja keras memang tidak mengkhianati hasil,” ujarnya.

Sedikit demi sedikit, hasil riasannya mulai dilirik banyak artis dan fotografer ternama.

Di balik karier yang terus melesat, Niken menyimpan kepedulian besar terhadap bangsa dan lingkungan.

Ia miris melihat kondisi Indonesia akhir-akhir ini, penggundulan hutan, bencana banjir di Sumatra Utara yang menelan lebih dari 700 korban, populasi gajah yang tersisa sekitar 150 ekor, hingga berbagai persoalan sosial lain.

Baginya, setiap anak bangsa harus ikut peduli, ikut berpikir, dan bertindak untuk masa depan Indonesia. “Show the empathy to the Earth,” ujarnya.

Setelah 17 tahun berkarya, Niken menyimpulkan beberapa pelajaran penting bagi adik-adik yang ingin menjadi MUA:

Tidak ada yang kebetulan. Semua hanya datang dari kerja keras.
Nikmati prosesnya, jangan terburu-buru ingin berada di puncak.

Jangan mudah putus asa, bersikaplah baik dan jujur kepada siapa pun.

Kita tidak pernah tahu dari mana rezeki akan datang.
Dan yang terpentin…, jangan lupa berdoa.”

 

 

 

Source image: niken

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *