Nosel.id Jakarta- Tidak semua orang punya jawaban singkat ketika ditanya “Asal mana?” dan Farisa Aprilianti adalah salah satunya.
Baginya, asal bukan sekadar tempat tinggal, tapi perjalanan panjang yang ikut membentuk siapa dirinya hari ini.
Farisa lahir di Pasuruan, di sebuah rumah sederhana yang berdiri tepat di depan hamparan sawah.
Udara pagi selalu sejuk, angin selalu ramah, dan masa kecilnya dipenuhi hal-hal manis yang mungkin hanya terjadi sekali seumur hidup seperti kebiasaannya baru mau makan kalau diajak naik bentor bareng ibu atau nenek.
Ada pula momen jenaka sekaligus berharga: kursi semen motif Teletubbies yang ia buat sendiri di depan sawah.
Entah masih ada atau tidak, tapi kenangannya selalu tinggal.

Saat usianya empat tahun, hidup membawa Farisa mengikuti tugas sang ayah ke Kalimantan Tengah. Lalu sejak SMA, ia merantau lagi ke Kalimantan Selatan hingga kini.
Tumbuh di banyak kota membuat Farisa belajar satu hal: rumah bukan sekadar tempat, tapi orang-orang yang mencintainya.
Sejak SMP hingga masa kuliah, Farisa punya satu “takdir kecil” yang selalu mengikuti ke mana pun ia pergi lomba nyanyi.
Ia sering bercanda kalau dirinya “dikorbankan” terus untuk lomba, tapi hatinya selalu berbunga setiap kali berdiri di panggung.
Baginya, bernyanyi bukan sekadar hobi; itu bahasa jiwa.
Ia sudah merasakan manisnya kemenangan, tapi bahkan kekalahan tak pernah benar-benar menjadi duka.
Farisa percaya, selama ia sudah memberi yang terbaik, hasil bukanlah sesuatu yang perlu disesali.
Kini Farisa berada di fase yang paling mendebarkan bagi mahasiswa tingkat akhir: skripsi.
Ia sedang berjuang menyelesaikan bab demi bab, menyusun teori, dan menegakkan harapan besar lulus 3,5 tahun. Setiap akhir pekan, ia menyempatkan satu hal kecil untuk dirinya sendiri: self-reward.
Entah itu jalan, makan enak, atau sekadar beli baju (yang sering kali — iya — bikin dia keracunan lihat yang lucu-lucu).
Tapi di balik semua kesibukan akademik, ada doa yang selalu ia bisikkan: semoga Allah mudahkan segalanya terutama untuk mama dan papa yang menjadi alasan ia ingin terus tumbuh.
Farisa bukan tipe yang meninggalkan sesuatu di tengah jalan.
Ia percaya bahwa pekerjaan yang sudah dimulai harus dirampungkan, apa pun tantangannya.

Mimpinya banyak, langitnya luas, dan ia memilih berjalan dengan penuh tekad.
Baginya, bermimpi bukan untuk ditakuti. “Bermimpilah setinggi mungkin,” katanya,
“karena ketika kamu jatuh, kamu tetap jatuh di antara bintang-bintang.”
Dan di perjalanan panjang ini, Farisa hanya ingin melakukan satu hal:
Do Your Best dalam setiap hal, setiap langkah, setiap impian.
Source image: farisa








