Hanya Wali Spiritual Yang Mau Bisikkan Firman Tuhan Pada Penguasa & Pengusaha Zalim Bin Korup

Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia (GMRI) merupakan wadah untuk menggugah kesadaran kebangkitan spiritual bagi bangsa Indonesia untuk negara agar dapat dikelola dengan etika, moral dan akhlak manusia yang mulia khalifah Tuhan di muka bumi.

Ajakan untuk membangun kesadaran spiritual bersama segenap anak bangsa — lintas suku dan agama — agar perilaku buruk yang tidak beretika dan abai pada Moral serta keambrukan akhlak sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna — dibanding malaikat dan syaitan — diharap dapat memberi keseimbangan antara yang lahir (duniawi) dengan yang bersifat rohani agar dapat kembali ditata, sehingga sikap ugal-ugalan dalam tata hubungan dan pergaulan antar manusia dapat lebih santun dan ugahari.

Demikian juga tentang Moral yang ambruk– sehingga telah menghalalkan segala cara untuk mendapat sesuatu, memenangkan persaingan dan pertarungan hingga keburukan sikap dan sifat pendengki, pencemooh kekurangan orang lain serta kesombongan dan keangkuhan yang tidak memiliki rasa hormat pada orang lain, idealnya dapat segera dihentikan, sehingga sikap kemaruk, tamak dan rakus serta egoistis untuk selalu merasa lebih unggul — utamanya dalam hal kekayaan dan kekuasaan– tidak semakin semena-mena dilakukan, andai saja tidak dapat segera dihentikan dan dihapuskan dari gaya hidup sehari-hari.

Pada giliran kemudian, tata kehidupan yang harmoni, selaras, rukun dan damai serta aman dan tenteram dapat kembali dibangun dalam tatanan hidup bersama, tiada lagi perlu merasa harus lebih hebat dan lebih unggul atau menggagahi orang lain.

Sifat dan sikap yang tamak dan rakus yang terus dipacu oleh ambisi tiada batas itu, telah menciptakan suasana persaingan sesama manusia terhadap manusia lain — yang paling dekat maupum yang jauh untuk selalu merasa lebih unggul, lebih hebat terutama dalam hal materi dan kekuasaan — bukan untuk kemaslahatan dan hal-hal yang baik sifatnya yang diorientasikan pada rohani, bukan saja jasmani.

Akkbatnya, pada giliran berikutnya — orientasi yang senantiasa dipusatkan pada materi — karena memang materialisme, kapitalisme dan genre baru dari turunannya kemudian yang disebut neolib — makin mendorong sokap abai pada hal-hal yang bersifat batiniah, rohaniah atau yang bersifat ilahiyah.

Konsekuensi dari semua itu memang telah menabrak eksistensi Tuhan yang semakin dilupakan. Manusia semakin merasa memiliki kemampuan — bahkan kekuasaan — yang melampaui ororitas Tuhan. Seperti sumpah dan janji atas nama Tuhan Yang Maha Kuasa jadi sekedar untuk mengangkangi jabatan yang mengatasi namanya amanah rakyat. Dan suara rakyat adalah yang diartikan sebagai suara Tuhan, kini jadi pemanis bibir belaka.

Karena itu, takaran kehebatan manusia pada era milineal sekarang ini adalah materialistik. Kekuasaan. Dan kekuasaan bila perlu dibeli dan ditebus dengan harga berapa pun.

Begitulah realitas budaya politik di Indonesia, nyata dan transparan dalam Pilkada maupun Pilpres yang dominan ditentukan oleh nilai uang, nilai suara bisa ditebus dengan cara serangan fajar yang cuma.

Jadi kegaduhan di Indonesia masih berkisar pada masalah ekonomi (materi) dan politik (kekuasaan), maka keculasan yang terlepas dari laku spiritial semakin jauh meninggalkan etika, moral dan akhlak mulia manusia sebagai anugerah Tuhan yang disia-siakan. Akibat dari kebobrokan etika (tidak bermalu) .

Moral yang bejad mengabaikan semua ajaran dan tuntunan agama — tuntunan Tuhan yang diturunkan dari langit — maka semua tindak kejahatan yang diakibatkan oleh kejahatan lainnya, semakin menjadi-jadi, seperti korupsi yang membuat kemiskinan rakyat jadi abadi, pengkhiantan terhadap Pancasila dan UUD 1945 yang telah disepakati hendak memerdekakan seluruh tumpah darah bangsa Indonesia — bukan bangsa asing — untuk menikmati kesejahteraan yang berkeadilan. Bukan untuk dinikmati sendiri oleh orang per orang atau keluarga maupun kelompok tertentu saja.

Karena itu jelas pengkhianatan terjadi, lantaran para pengambil kebijakan — eksekutif, legislatif dan yudikatif — lepas kendali, tidak terkontrol serta tidak dapat dibenahi etika, moral dan akhlaknya — kecuali mau rendah hati dikawal oleh wali spiritual yang tampil dari agama yang terpilih, setara dengan wali spiritual yang diidolakan untuk membisikkan firman-firman Tuhan. Minimal, untuk sementara ini tampaknya yang mampu membisikkan firman dan pesan Tuhan hanyalah wali spiritual yang berdatangan dari berbafai bilik agama untuk menuntun mereka yang sesat, lupa harus menuju ke rumah Tuhan.

Paparan ini merupakan pemampatan dari berbagai dialog, diskusi serta pendapat dan tausiah secara langsung maupun tidak bersama Ketua Umum GMRI, Eko Sriyanto Galgendu dalam berbagai kesempatan dengan sejumlah tokoh maupun pemuka agama di berbagai tempat pada pelbagai kesempatan.

Jacob Erneste.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *