Nosel.id Jakarta- Setiap orang membawa potongan kampung halaman dalam hatinya, dan bagi Ketrin Putri Djasmita, potongan itu berasal dari Ambon, kota manise yang tak hanya manis karena pemandangannya, tetapi juga karena kehangatan manusianya.
Dengan bangga ia menggambarkan orang-orang Ambonya yang kulitnya berwarna gelap tapi tetap cantik atau ganteng, sebuah identitas yang ia junjung tinggi.
Meski mengakui kampung halamannya yang panass banget dan biaya hidup yang mahal, Ketrin menekankan bahwa Maluku menyimpan keindahan yang tak tergantikan.
Pada usia 19 tahun, ia memutuskan untuk merantau ke Jawa untuk kuliah, sebuah keputusan yang tidak mudah bagi seorang anak yang sangat dekat dengan keluarganya.
“Awal-awal merantau itu terasa berat banget,” akunya.
Namun, jarak tidak pernah memutuskan benang kasih sayang.
Keluarganya selalu hadir dalam cara-cara yang paling mengharukan: telepon random di saat sepi, kehadiran doa yang menyertai setiap langkah.
Dan sebuah ikatan batin yang kuat dimana mereka bisa selalu tau kalau aku sedang sakit, padahal aku tidak pernah memberi tau.
Fondasi cinta keluarga inilah yang membentuknya menjadi pribadi yang tangguh dan penuh kasih.

Pada Juli 2024, Ketrin menyandang gelar sarjana Psikologi.
Saat ini, ia sedang mempersiapkan diri untuk melanjutkan studi sambil mengabdikan ilmunya sebagai volunteering teacher di TK.
Pilihan untuk bekerja dengan anak-anak bukanlah suatu kebetulan.
Sejak menjadi mahasiswi psikologi, ia menemukan kecintaan dan kepuasan mendalam ketika berinteraksi dengan mereka.
Di luar dunia pendidikan, Ketrin memiliki dua hobi yang setia menemaninya: menyanyi dan membaca buku.
Bakat menyanyinya telah diasah sejak kecil melalui berbagai lomba, sementara kecintaan pada buku, terutama novel fantasi Tere Liye, telah memuaskan rasa penasarannya akan cerita dan imajinasi.
Aktivitas di depan kamera sebagai model atau muse awalnya adalah sebuah kebetulan setelah ada yang menawarinya melalui Instagram.
Namun, ia justru menemukan kebahagiaan dalam mengekspresikan diri di depan lensa.
“Aku bukan tipikal orang yang malu-malu depan kamera, malah aku merasa bisa menjadi diriku yang sebenarnya,” ujarnya.
Dalam peran utamanya sebagai pendidik, suka dan duka datang dari interaksinya dengan anak-anak.
Dukanya muncul saat ia merasa lelah atau burnout dan harus menghadapi beragam karakter anak, sebuah tantangan yang harus dihadapi sambil mempersiapkan studi lanjutnya. Namun, sukanya jauh lebih besar dan bermakna.
“Aku merasa aku mendapatkan cinta yang tulus,” katanya, bukan hanya dari anak-anak tetapi juga orang tua mereka.
Kebahagiaannya datang dari kesempatan untuk mempersiapkan masa depan anak-anak, berbagi dengan orang tua tentang perkembangan mereka, dan menjadi saksi tumbuh kembang mereka.
Ia ikut senang saat mereka senang, dan sedih ketika mereka terluka, sebuah bukti betapa ia menaruh hati sepenuhnya pada apa yang ia kerjakan.
Perjalanan hidup dan pekerjaannya telah mengajarkannya pelajaran berharga:
“Aku belajar menikmati hidup dengan berbagi cinta yang kumiliki tanpa mengharapkan imbalan.”
Baginya, mengharapkan balasan yang setara hanya akan menciptakan kekecewaan.
Filosofi ini membebaskannya untuk mencintai dengan tulus, sebagaimana adanya.

Harapan terbesarnya sederhana namun mendalam: ia berdoa agar semua orang, terutama anak-anak, mendapatkan cinta dan kasih sayang yang pantas mereka dapatkan, serta dilindungi dari kesedihan dan kekecewaan.
Pesan motivasinya mencerminkan jiwa yang lapang dan penuh keyakinan:
“Biarlah orang lain juga menikmati kebahagiaan & ketulusan kita. Jika mereka tidak memberikan yang sama, biarlah itu menjadi urusan mereka.
Karena sekecil apapun ketulusanmu, pasti akan Tuhan lipat gandakan.”
Source image: ketrin








