Nosel.id Jakarta- Dengan energi yang memancar dan senyum yang mudah terurai, Sasky, adalah sosok ekstrovert sejati asal Lampung.
“Aku itu selalu menjadi sosok yang extrovert atau easy going banget sih,” akunya.
Kemampuannya menjalin pertemanan terbilang luar biasa, temen banyak banget” dan “gampang banget kenalan sama temen.
Namun, di balik keramahannya yang luas, tersimpan kebijaksanaan dalam memilih keintiman.
“Tapi untuk dijadikan sahabat itu dikit banget,” jelasnya, mengikuti ajaran keluarga, terutama kakaknya, tentang pentingnya memilih sahabat dengan hati-hati.
Masa kecil Sasky diwarnai dinamika berpindah-pindah.
Sebenarnya berakar di Palembang, ia kerap mengikuti orang tuanya yang pekerjaannya menuntut relokasi, hingga akhirnya menetap lebih permanen di Lampung saat jenjang SMP.
Awalnya ia ‘tinggal landas’ sendiri di Lampung karena kakaknya menikah dengan orang sana, sementara orang tuanya masih berpindah-pindah kerja.
“Tapi seiring jalan waktu, anak anak dan mama papa satu persatu nyusul ke lampung semua,” kenangnya tentang akhirnya kebersamaan keluarga di tanah Lampung.

Kesibukan Sasky saat ini adalah paduan antara tanggung jawab dan passion.
Di satu sisi, ia melanjutkan usaha keluarga yang sudah mapan.
Di sisi lain, ia juga menjalani kuliah dan bekerja di dalam lingkup keluarga.
Namun, jiwa Sasky yang penuh semangat menemukan saluran utamanya dalam aktivitas fisik yang dinamis: lari, gym, dan terutama dance.
Dunia tari bukan sekadar hobi, tapi bagian dari jati dirinya.
“Aku dari kecil suka banget dance,” tuturnya.
Passion ini mengkristal saat SMA di mana ia total terjun dalam Modern Dance (MD) dan Dance Cover.
Bakat dan dedikasinya bahkan mengantarkannya pada peran kepemimpinan: “Biasanya jadi ketua tim atau coach dance“.
Ia kerap “keliling diundang ke sekolah” untuk mengajarkan dance kepada anak-anak SD.
Cintanya pada seni pertunjukan juga terwujud dalam hobi menonton konser, baik lokal maupun internasional.
“Aku suka banget sm namanya musik, apalagi aku dance dan cepet apal jadinya aku suka bangt nonton,” ujarnya.
Tak hanya di panggung, jiwa petualang Sasky juga menggebu dalam travelling, terutama mencoba wahana baru, suasana baru, dan aktivitas ekstrem.
Yang mengesankan, ia sangat mandiri: “Aku bisa banget travelling sendirian,” meski juga terbuka untuk bersama teman yang frekuensinya cocok.
Mengarungi dunia dance dan bisnis membawa suka duka tersendiri. Sebagai dancer otodidak, Sasky merasakan tantangan teknis.
“Ga gampang buat dihapal untuk semua orang dengan cepat harus bisa basic dance dulu sih,” akunya tentang proses belajar dan mengajar.
Di ranah bisnis, sebagai penerus usaha keluarga (dan juga seorang komisaris), tekanannya berbeda.
Ia merasa tertekan bagaimana melanjutkannya dan harus menjadi visioner untuk memertahankan usaha di tengah dinamika pasar.
Tantangan ganda ini menuntut ketangguhan dan kecerdasan mengelola prioritas.
Memandang ke depan, harapan Sasky berpusat pada kelanjutan pembelajaran, stabilitas, dan kecukupan.
“Semoga aku tetep belajar yang udah aku mulai saat ini dengan bener-bener,” tekadnya tentang komitmen pada pendidikan dan pengembangan diri.
Ia berdoa agar karir dan ekonominya, serta kesehatan keluarganya, senantiasa terjaga tanpa kekurangan.
“Kalau bisa ya cukup yaa untuk menutupi apa yang bisa kita sanggupin,” harapnya sederhana namun penuh makna tentang mencapai kemandirian finansial.

Untuk para pembaca, khususnya perempuan Indonesia, Sasky menyampaikan pesan yang tegas dan memberdayakan:
“Semoga kalian gak pernah ragu sih untuk melangkah kemanapun, kalian harus berani apalagi kita perempuan.
Kita harus punya pendirian yang teguh.”
Source image: sasky








