Nosel.id Jakarta- Fathira Ismail, atau yang akrab disapa Tira, adalah seorang wanita yang tumbuh besar di Bandung sebelum akhirnya pindah ke Jakarta bersama suami.
Keduanya berasal dari latar belakang budaya Sunda, yang selalu menjadi bagian penting dalam hidup mereka. Sebelum menjadi instruktur olahraga, Tira meniti karier sebagai tenaga kesehatan.
Namun, setelah melahirkan anak kedua, ia memutuskan untuk berhenti praktik total dan fokus sebagai ibu rumah tangga.
Keputusan ini ternyata membawa tantangan baru: dari yang tadinya aktif bekerja, ia tiba-tiba harus sepenuhnya berada di rumah, yang membuatnya mengalami stres.
Pada tahun 2014, Tira menemukan pelarian dan keseimbangan dalam olahraga. Berkat pengalaman bekerja di Kabupaten Bandung Barat, wilayah yang didominasi pegunungania mulai menekuni olahraga lari di jalur pegunungan (trail run).
Aktivitas ini menjadi bentuk coping stress yang sangat membantunya. Tak hanya sekadar berlari, ia mulai serius mengikuti berbagai ajang perlombaan trail running besar di Jawa Barat.
Namun, ketika pindah ke Jakarta, ia harus beradaptasi dengan kondisi baru yang minim jalur pegunungan untuk trail run.
Ia pun beralih ke olahraga lari jalanan dan mulai mencoba berbagai cabang olahraga lainnya.

Dari sinilah kecintaannya terhadap dunia kebugaran semakin berkembang, hingga akhirnya ia menjadi seorang sport enthusiast.
Seiring waktu, ketika anak keduanya mulai tumbuh besar, Tira memutuskan untuk kembali menekuni dunia kesehatan, tetapi kali ini dari sisi olahraga.
Dengan latar belakang pendidikannya di bidang kesehatan, ia mulai mengambil berbagai sertifikasi profesi yang sejalan.
Pada Juli 2024, ia mengikuti uji kompetensi sebagai Ahli Ilmu Faal Olahraga dan Kebugaran untuk menunjang kariernya sebagai instruktur olahraga.
Menyadari pentingnya keseimbangan dalam berolahraga, ia juga mengambil sertifikasi Barre Intensity, sebuah jenis latihan low impact yang diharapkan semakin dikenal luas di Indonesia.
Bagi Tira, menjadi seorang sport enthusiast bukan sekadar menjalani hobi, tetapi juga sebuah bentuk syukur atas tubuh yang sehat dan bugar.
Baginya, olahraga adalah salah satu cara terbaik untuk mencintai diri sendiri.
Namun, ia juga menyadari bahwa edukasi olahraga di Indonesia masih sangat kurang. Banyak orang ingin berolahraga, tetapi tidak memiliki pemahaman yang cukup, sehingga rentan mengalami cedera atau overtraining.
Hal ini menjadi salah satu tantangan besar yang ingin ia hadapi sebagai instruktur dan edukator kebugaran.
Salah satu pengalaman paling berkesan dalam hidupnya adalah ketika ia terpilih menjadi bagian dari Medical and Doping Department di Asian Games 2018 saat Indonesia menjadi tuan rumah.
Ia merasa bangga bisa menjadi bagian dari sejarah besar ini, terlebih saat itu ia sedang hamil tujuh bulan anak keduanya.
Di tahun yang sama, ia juga mengikuti Bandung Marathon saat hamil besar, sebagai bentuk inspirasi bagi para ibu hamil agar tetap aktif dan tidak membatasi diri.
Harapan terbesar Tira adalah semakin banyak orang yang terinspirasi dan teredukasi dalam bidang olahraga dan kesehatan.
Ia ingin melihat angka harapan hidup masyarakat Indonesia meningkat, setara dengan negara-negara maju.
Baginya, perubahan harus dimulai dari kesadaran diri sendiri, lalu menyebar untuk menginspirasi orang lain.
“Terkadang kita takut karena belum mencobanya, malu karena mendengar tanggapan orang!
Lakukan hal baik itu meski cuma kita yang tahu. Setidaknya itu adalah bentuk apresiasi untuk diri sendiri bahwa kita sudah melakukan hal baik.
Jadilah inspirator terbaik untuk diri sendiri – aspire to inspire,” tutupnya.
Source image: fathira









